resensi buku
Legitimasi Kekuasaan dan Rekayasa Kebudayaan
Pelarangan buku pada hakikatnya adalah strategi penguasa untuk menjinakkan masyarakat, tidak mengakui adanya keanekaragaman perspektif dan kemajemukan
WARTA KOTA, PALMERAH - Buku Tod Jones, Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad Ke-20 ..hingga Era Reformasi berbicara tentang kontrol politik atas pembentukan kebudayaan.
Jones menyebutkan bahwa menyangkut kebudayaan, setiap rezim di Indonesia menjalankan budaya komando dalam merekayasa kebudayaan.
Namun, hanya rezim Orde Baru yang bersemangat menyeragamkan ekspresi budaya dalam satu ukuran.
Salah satu contoh bagaimana rezim Orba ingin menyeragamkan dan menunggalkan ekspresi budaya adalah melalui pelarangan buku.
Menurut Fauzan dalam bukunya Mengubur Peradaban: Politik Pelarangan Buku di Indonesia (LKiS, 2003), pelarangan buku pada hakikatnya adalah strategi penguasa untuk menjinakkan masyarakat, tidak mengakui adanya keanekaragaman perspektif dan kemajemukan sudut pandang (hal vi).
Alasan-alasan yang dikemukakan dalam pelarangan buku antara lain adalah buku mengandung muatan ideologis yang berseberangan dengan negara atau mengandung unsur penghinaan.
Pada masa Orde Baru banyak buku yang dilarang karena disinyalir mengandung atau menyebarkan paham Marxisme dan komunisme.
Karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer banyak yang dilarang beredar karena penulisnya dituduh sebagai anggota Lekra.
Kekerasan budaya
Contoh lain dari pemberangusan terhadap budaya adalah adanya rekayasa budaya oleh pemerintahan Orba.
Rezim ini telah melakukan kekerasan budaya yang terjadi pada tahun 1965-1966 melalui produk-produk budaya yang menciptakan stigma komunisme sebagai musuh negara paling utama.
Dalam buku Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Marjin Kiri, 2013), Wijaya Herlambang memperlihatkan bentuk kekerasan tak langsung terhadap kaum komunis.
Rezim Orba, melalui penggunaan produk-produk budaya, ideologi liberalisme, dan narasi sejarah yang dituangkan dalam karya-karya sastra dan film oleh penulis antikomunis dan militer, melakukan penumpasan komunisme (hal vi).
Kekerasan budaya dalam sastra dan film merupakan sebuah kekerasan linguistik.
Dengan menggunakan kekuatan simbolis, sebuah karya sastra ataupun film dapat dimanipulasi, misalnya dengan cara memasukkan perspektif ideologi tertentu dalam sebuah karya.
Karya sastra dan film yang sarat dengan dogma antikomunis yang sangat manipulatif memunculkan stigma bahwa PKI adalah kejam, biadab, dan berbahaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151229legitimasi-kekuasaan-dan-rekayasa-kebudayaan_20151229_143600.jpg)