resensi buku
Setengah Abad Setia Berkarya
Nama perempuan Tionghoa kelahiran Jakarta, 27 Januari 1943, ini melejit lewat novel Karmila yang mula-mula sebagai cerita bersambung di harian Kompas
Bagian pertama adalah ”Di Mana Waktu Membeku” yang berisi sembilan cerpen dari masa 1964 hingga 1987 dan pernah dipublikasikan berbagai majalah, antara lain Gadis dan Femina.
Bagian kedua bertajuk ”Lukisan Kehidupan” berisi delapan tulisan ”cerita-nonfiksi”. Sementara bagian ketiga ”The Djakarta Times” yang berisi delapan cerita yang ditulis dalam bahasa Inggris dan sebagian besar pernah diterbitkan di The Djakarta Times pada 1970-an dan dia sebut sebagai gone but unforgettable.
Marga bisa disebut sebagai salah satu penulis terbaik untuk jenis cerita hiburan. Dalam menulis, bahasa yang dipergunakan sederhana dan lincah.
Adegan-adegan cinta yang diungkapkannya tak tergelincir menjadi cengeng dan murahan.
Kekuatannya adalah pada plot. Ia kerap memakai gaya bahasa populer kalangan menengah ke atas di Jakarta dengan tokoh para perempuan terpelajar. Itu semua terbaca dari cerpen-cerpen dalam buku Sine Qua Non.
Bagi Marga, dunia fiksi dan kedokteran tak bisa dipisahkan. Dalam karyanya, dunia kedokteran menjadi latar yang memperkaya dan kerap ditampilkan.
Banyak tokoh ceritanya adalah dokter atau pasien rumah sakit yang tampaknya diilhami oleh pengalaman dia sebagai dokter.
Seperti diungkap dalam buku Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia (1981), bagi Marga, ”Bergaul dengan para pasien adalah sumber ilham yang tidak akan kering.”
Ambil contoh cerpen ”Kamar 27” (hlm. 19-27). Cerita ini tentang dilema seorang dokter (perempuan) yang terbelah antara karier dan rumah tangga, serta diramu dengan hubungan melodramatis antara seorang perempuan, mantan suaminya, dan anak mereka yang merindukan kasih sayang.
Sementara dalam ”Gaun Sutra Ungu” (hlm. 170-180), Marga merangkai kisah supernatural berlatar Hongkong dengan tokoh empat perempuan berbeda generasi.
Cerita ini mengandung nilai universal kemuliaan membantu sesama makhluk dan betapa peribahasa ”utang budi dibawa mati” itu tak hanya pemanis bibir meski itu berarti harus menembus dimensi yang berbeda—alam dunia dan alam roh.
Berbakti bagi sesama
Dalam pengantar buku ini, Marga yang kini 73 tahun dan aktif kegiatan sosial menyatakan bahwa tekad mengarang—yang telah berlangsung 50 tahun!—tumbuh dalam dirinya berkat kebiasaan membaca sejak kecil.
Buku-buku perpustakaan sekolah merupakan pupuk bagi bakatnya. Bahkan, setelah memiliki penghasilan, uangnya pun selalu nyaris habis dibelikan buku.
Maka, dia sengaja menjuduli buku ini Sine Qua Non, istilah dalam bahasa Latin yang berarti ”syarat mutlak untuk mencapai tujuan”. Dalam konteks ini, tujuan adalah menulis untuk berbakti bagi sesama.
Seperti dinyatakan Marga sendiri dalam pengantarnya, kisah-kisah di dalam buku Sine Qua Non adalah nonfiksi dan fiksi-berdasarkan-fakta. Banyak cerita yang ditulisnya berdasarkan pengalaman pribadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151210setengah-abad-setia-berkarya_20151210_173349.jpg)