resensi buku

Setengah Abad Setia Berkarya

Nama perempuan Tionghoa kelahiran Jakarta, 27 Januari 1943, ini melejit lewat novel Karmila yang mula-mula sebagai cerita bersambung di harian Kompas

Kompas/Agus Susanto
Cover buku Sine Qua Non: Dancing with the Holy Spirit 1964-2014. 

Oleh Anton Kurnia

Fiksi populer atau bacaan hiburan kerap dibedakan secara inferior terhadap karya sastra adiluhung. Namun, sesungguhnya seperti dinyatakan oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam ”Tentang Telaah Sastra Populer” (1999), fiksi populer berpeluang sama untuk ditelaah secara serius layaknya karya sastra yang dianggap adiluhung itu.

Di antara bacaan fiksi populer itu, yang menonjol dan amat digemari masyarakat sejak lama adalah novel dan cerita melodrama asmara.

Ada sejumlah pengarang yang menekuni fiksi jenis ini yang muncul 1970-an, terutama penulis perempuan, di antaranya La Rose, Mira W, dan Marga T.

Dari sejumlah nama itu, yang paling menonjol adalah Marga T, alias Dokter Marga Tjoa.

Karangan Marga mula-mula dimuat di majalah sekolah. Pada 1964, terbit cerpen pertamanya, ”Kamar 27”, di Warta Bhakti.

Sejak itu karangan Marga bertebaran di berbagai koran dan majalah. Pada 1969, terbit buku pertamanya, Rumahku Adalah Istanaku, sebuah cerita anak-anak.

Nama perempuan Tionghoa kelahiran Jakarta, 27 Januari 1943, ini melejit lewat novel Karmila yang mula-mula sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada awal 1970-an.

Setelah sukses dengan Karmila yang dicetak berkali-kali dan kemudian diangkat ke layar perak, Marga melahirkan novel-novel laris lain, seperti Badai Pasti Berlalu, Gema Sebuah Hati, Ranjau-Ranjau Cinta, dan Bukan Impian Semusim.

Satu novelnya, Sekuntum Nozomi (2004, bagian ketiga dari pancalogi), mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 di Jakarta yang memakan banyak korban kaum perempuan Tionghoa.

Karya-karya Marga bisa dibilang mampu mengungkap kisah percintaan yang lembut dan relatif bersih dari pornografi.

Itu sebabnya subgenre novel pop semacam ini dapat diterima oleh masyarakat luas, terutama kaum perempuan.

Melalui buku terakhirnya, Sine Qua Non Dancing with the Holy Spirit 1964-2014 (GPU, 2014), Marga merangkum perjalanan kariernya sebagai pengarang selama 50 tahun dalam bentuk kumpulan cerpen dan tulisan.

Sederhana dan lincah
Dalam rentang setengah abad berkarya, Marga telah memublikasikan 128 cerpen dan 67 buku, sebagian besar berupa novel. Dalam buku Sine Qua Non, ditampilkan 25 cerita yang dibagi menjadi tiga bagian.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved