Citizen Journalism
Bila Pemimpin Bersastra
Kini, setelah beberapa dasawarsa, jarang sekali kita temukan catatan tentang pemimpin kita yang dekat dengan sastra.
Polemik, intrik, politik, kemiskinan, kejahatan, narkoba, korupsi, nepotisme, kolusi, papa minta saham, dan segudang persoalan terus menghimpit dan mendera Republik Indonesia.
Rakyat bingung, siapa di negara ini yang layak untuk dijadikan contoh di berbagai segi kehidupan, sementara presiden dan jajarannya, hingga pemimpin DPR pun tak lepas dari lingkaran persoalan.
Pemimpin memahami ajaran agama, tetapi mereka juga yang sering melanggarnya, karena mereka tahu caranya bertobat. Pemimpin melanggar hukum, tetapi mereka juga tahu caranya lepas dari hukum.
Pemimpin-pemimpin masa kini harus “nyastra” atau mau meluangkan waktu untuk mempelajari karya-karya sastra agar tak salah langkah dalam melaksanakan amanat rakyat.
Seringkali dalam karya-karya sastra itu tertuang tuntunan, filsafat, etos kerja maupun tatanan perilaku yang mutlak harus ditumbuhkembangkan oleh seorang pemimpin dalam menggerakkan roda pemerintahan.
Banyak karya sastra yang bisa dijadikan referensi oleh para pemimpin dalam mengelola pemerintahan ini. Karya sastra sarat dengan filsafat tentang kepemimpinan yang layak dijadikan pegangan oleh para pemimpin.
Jadi, pemimpin yang nyastra bukan berarti pemimpin itu harus mahir bersastra puisi, prosa dan sebagainya. Yang terpenting, bagaimana pemimpin itu bisa mengimplementasikan ajaran dan filsafat kepemimpinan dalam karya sastra itu ke tataran praktik atau implementasi.
Seorang pemimpin hendaknya benar-benar memikirkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya berorientasi memikirkan dan mengejar kekayaan diri sendiri.
Seseorang baru bisa disebut pemimpin yang sejati apabila dia setia pada pikiran, perbuatan dan perkataannya. Dia tidak berorientasi menumpuk kekayaan, tetapi senantiasa mengupayakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Rakyat adalah badan dari pemimpin itu sendiri. Apabila rakyat hidup dalam kemiskinan, maka sesungguhnya pemimpin itu sendiri yang miskin. Tidak akan ada kebahagiaan apa pun yang didapat oleh pemimpin ketika rakyatnya diliputi kemiskinan.
Dekat dengan sastra dan juga berkesenian harus menjadi adonan utama dalam pembangunan karakter bangsa.
Krisis multidimensi kita diperburuk dan diperpelik timpangnya pembangunan bangsa selama ini yang mendahulukan pembangunan sosok, tetapi mengabaikan pembangunan inner beauty bangsa.
Pembangunan ekonomi mempercantik sosok bangsa, puisi, dan sastra membuatnya beradab, termasuk menjadikannya elitis saat berpolitik.
Drs. Supartono, M.Pd,
Pemerhati pendidikan, bahasa, dan sastra