Citizen Journalism

Bila Pemimpin Bersastra

Kini, setelah beberapa dasawarsa, jarang sekali kita temukan catatan tentang pemimpin kita yang dekat dengan sastra.

WARTA KOTA, PALMERAH - Dari beberapa literasi, sosok pemimpin kita yang akrab dengan sastra adalah Muhammad Yamin dengan Sumpah Pemuda-nya.

Kemudian Bung karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, adalah sosok yang dekat dan membaca karya sastra.

Dalam konteks dunia, kita dikenalkan sosok semacam Presiden Abraham yang terkenal banyak bikin puisi dan berkarib dengan sastra, yang menuntun kepemimpinannya.

Bangsa Tionghoa sampai tahun 1904 dipengaruhi dengan ujian kesustraan atau disebut juga Ujian Nasional/Ujian Kenegaraan.

Berhasil lulus Ujian Nasional adalah kunci agar bisa mendapat pekerjaan yang baik dalam pemerintahan/kepemimpinan.

Dalam Ujian Nasional, soal-soal ujian adalah kesusastraan Tionghoa, yaitu filsafat, sejarah, sajak serta perundingan yang berat-berat.

Bagaimana dengan pemimpin bangsa kita sekarang, apakah mereka cukup bersastra, mengenal sastra?

Kini, setelah beberapa dasawarsa, jarang sekali kita temukan catatan tentang pemimpin kita yang dekat dengan sastra.

Akibatnya, apa yang diperbuat oleh pemimpin kita, jangankan untuk menjadikan contoh untuk masyarakat yang dipimpinnya, untuk dirinya sendiri saja, belum layak.

Namun mendekati pilkada serentak, banyak sekali sosok yang ingin menjadi pemimpin baik wali kota, bupati, hingga gubernur.

Sedangkan pemimpin yang sekarang sudah menduduki tempatnya saja masih menjadi sorotan publik karena nirkelayakan dari sikap dan perbuatannya yang tidak mencerminkan seorang pemimpin.

Kasus terbaru, pencatutan nama Presiden dalam perpanjangan kontrak Freeport hingga terseretnya Ketua DPR RI Setya Novanto, merupakan pukulan telak bukan hanya untuk DPR, presiden dan wakilnya, serta menteri, tetapi merupakan pukulan telak bagi bangsa dan negara ini di mata dunia.

Sementara rakyat yang lebih sering sengsara karena kebijakan dan tindakan mereka, harus terus gigit jari melihat drama tragis yang terus dipertontonkan di bumi tercinta.

Tak pernah usai kasus korupsi di KPK, berlarut-larut presiden, menpora, dan tim transisi, mengombang-ambingkan persepakbolaan nasional dengan membekukan PSSI demi tata kelola sepakbola nasional yang lebih baik, namun publik mengetahui latar belakang sebenarnya di balik persoalan tersebut.

Jauhnya pemimpin kita dari kehidupan sastra, menjadikan sebab negara ini penuh dengan carut-marut dan benang kusut di berbagai segi kehidupan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved