Angka Perceraian di Korea Selatan Terus Meningkat, Ada Apa?
Perceraian senja setelah 20 tahun menikah di tengah masyarakat konservatif Korea Selatan menandakan stigma perceraian telah luntur
Semakin banyak perempuan ingin bercerai setelah pengadilan menganggap pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaan yang harus dikompensasi, kata pengacara Kim Sung-woo yang banyak terlibat dalam kasus perceraian di usia tua.
"Aset rumah tangga dibagi merata, bahkan jika sang suami adalah pekerja kantor dan istrinya ibu rumah tangga yang membesarkan anak di rumah," kata dia.
Banyak perempuan yang bercerai di usia senja karena yakin dengan kemudahan mencari kerja.
Jumlah perempuan pekerja Korea Selatan mencapai rekor 49,5 persen tahun lalu, dengan proporsi perempuan berusia di atas 50 tahun meningkat menjadi 43,2 persen, naik dari 39,7 persen pada 2010.
Peningkatan perceraian di usia tua menimbulkan lebih banyak pernikahan kedua, meski keputusan itu lebih dipengaruhi oleh kemandirian finansial dari calon pasangan ketimbang kesamaan hobi dan ketertarikan.
"Dulu, orang tua menganggap menikah lagi itu memalukan," kata Kim Mi-yeon dari perusahaan mak comblang DUO Marriage Information Co.Ltd.
"Sekarang mereka ingin menemukan pasangan hidup baru yang bisa menjadi teman berbagi hobi," demikian seperti dilansir kantor berita Reuters. (Antara)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151113-korea-selatan_20151113_114837.jpg)