Sabtu, 18 April 2026

Liga Indonesia

Agus Yuwono Pikirkan Langkah Banding ke Komdis PSSI

Mantan pelatih Gresik United, Agus Yuwono tengah berpikir untuk melakukan banding atas sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Penulis: Sigit Nugroho |

Untuk melakukan banding, sebenarnya Agus Yuwono sudah ditawari pendampingan hukum oleh beberapa ahli hukum, namun dia belum menerimanya.

"Dengan apa saya bisa membayar mereka. Untuk memenuhi panggilan dari Komdis PSSI saja tidak bisa, karena saya memang sedang kesulitan keuangan. Jadi saya akan memikirkannya. Kemungkinan saya akan datang sendiri ke Komdis PSSI," terang Agus Yuwono.

Agus menambahkan, masalahnya tidak selesai di situ, karena manajemen Gresik United meminta dirinya mengkonfirmasi terkait adanya pengaturan skor di timnya.

"Saya jadi pihak yang dirugikan tetapi justru saya diminta oleh manajemen Gresik United untuk mengkonfirmasi. Padahal saya tidak menerima uang apapun terkait adanya match fixing itu. Jadi masalah saya jadi double," tambah Agus.

Agus Yuwono memprotes hukuman sepihak itu.

"Saya justru menjelaskan kepada publik, ada pengaturan skor. Saya tidak terlibat di dalamnya. Jadi aneh, kalau malah saya yang dikenai sanksi. Saya akan menerima sanksi itu, kalau memang terlibat dalam match fixing dan menerima uang dari pihak tertentu. Saya jadi merasa dikorbankan oleh PSSI. Ada apa, justru saya yang dikenakan sanksi," terang Agus.

Agus memaparkan, keterangannya beberapa bulan lalu terkait adanya praktik suap, justru untuk memberikan informasi kepada PSSI.

"Seharusnya PSSI berterima kasih dengan informasi yang saya berikan, bukannya malah saya yang dikenakan sanksi. Ini benar-benar aneh. Atas dasar apa Komdis PSSI memberikan sanksi. Saya yang berikan informasi, kenapa justru saya yang diberikan sanksi," papar Agus.

Agus menegaskan, praktik match fixing yang dialaminya itu saat melatih Gresik United.

Kala itu di Liga Super Indonesia (LSI) musim 2013, saat Gresik United melawan Persik Kediri dan Barito Putera.

"Sebelum pertandingan BS menelepon saya untuk mengalah dengan imbalan uang Rp 200 juta di masing-masing dua pertandingan tersebut. Kala itu saya jawab, saya tidak mau menerima uang itu, karena saya ingin tim menang. Akhirnya pertandingan berjalan tanpa match fixing dan hasilnya kami imbang 1-1 dengan Persik Kediri dan 2-2 dengan Barito Putera," tegas Agus.

Beberapa bulan lalu BS justru mengajak Agus untuk menjelaskan kepada publik terkait match fixing tadi.

"Saat itu BS berjanji akan membuktikan terkait match fixing di dua pertandingan tim saya. Karena saya menolak praktik buruk dan mendukung kebersihan pertandingan, saya pun menerima ajakan BS. Jadi tujuan saya sebenarnya adalah menolak match fixing dan memberikan informasi kepada publik dan PSSI yang seharusnya bisa menyelidikinya," ucap Agus.

Sebelumnya diberitakan, Komdis PSSI menetapkan sejumlah hukuman baru kepada dalang pelaku sepakbola gajah yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS dalam babak 8 besar Divisi Utama.

Suparjiono, manajer PSS dilarang beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup. Ia dinilai menjadi dalang dan seharusnya mampu mencegah kejadian tersebut.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved