resensi buku
Potret Kelas Menengah Indonesia
Kelas menengah Indonesia selalu menjadi bahan kajian yang menarik, baik dari sudut politik, sosial, maupun ekonomi.
WARTA KOTA, PALMERAH - Kelas menengah Indonesia selalu menjadi bahan kajian yang menarik, baik dari sudut politik, sosial, maupun ekonomi.
Buku In Search of Middle Indonesia memaparkan kajian sosial dengan pendekatan etnografi tentang masyarakat kelas menengah di berbagai kota penyangga di Indonesia.
Bagi bidang ekonomi, fenomena pertumbuhan kelas menengah penting dipelajari.
Mengapa? Karena revolusi kelas menengah mengubah wajah konsumen dan dunia pemasaran di Indonesia, menurut Yuswohady dan Kemal E Gani, penulis buku 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia Pustaka Utama, 2015), pada bagian Pendahuluan.
Untuk mengetahui secara jelas sosok kelas menengah dengan segala perubahannya, Middle Class Institute (MCI) mengadakan berbagai riset.
Riset ini bertujuan mengetahui gaya hidup, nilai-nilai, harapan, persepsi hidup, perilaku, dan pola konsumsi kelas menengah di sembilan kota utama di Indonesia, termasuk Jabodetabek.
Dari pemotretan tersebut, MCI mengelompokkan kelas menengah ke dalam delapan segmen, yaitu aspirator, performer, expert, climber, trendsetter, follower, settler, dan flow-er. Segmentasi ini memberikan gambaran ada pergeseran konsumen kelas menengah sebagai dampak dari kemajuan sosial ekonomi (hal xvi).
Sebelumnya, MarkPlus Insight juga meriset kelas menengah di 10 kota besar di luar Jakarta.
Hasilnya diuraikan Taufik dalam Rising Middle Class in Indonesia: Peluang Bagi Marketer & Implikasi bagi Policy Maker (Gramedia Pustaka Utama, 2012).
Jika riset MCI mengidentifikasi delapan segmen kelas menengah, MarkPlus membaginya menjadi empat, yaitu the image boaster, the social climber, the hard-worker, dan the future planner.
Lebih jauh, MarkPlus melakukan segmentasi terhadap tiga subkultur, yaitu perempuan, anak muda, dan netizen.
Kelas menengah yang menjadi subyek riset kedua lembaga ini adalah kelas menengah sesuai definisi Bank Dunia, yaitu kelompok individu dengan kisaran pengeluaran 2-20 dolar AS per hari.
Kelas menengah Indonesia ini juga mempunyai ciri memiliki kemampuan daya beli yang meningkat, lebih independen terhadap negara, dan adaptif terhadap perubahan sosial di tingkat global.
Peluang bagi industri
Meningkatnya kelas menengah merupakan berkah bagi dunia perdagangan.
Indonesia mulai diperhitungkan dan menjadi magnet bagi investor dalam dua dekade terakhir, terutama setelah reformasi tahun 1998.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151021potret-kelas-menengah-indonesia_20151021_153047.jpg)