Citizen Journalism

Masih Soal Asap

Presiden harus tegas menindak mereka. Jangan hanya datang ke lokasi kebakaran dan hanya memanjat pos pemantau sekadar tengok kanan-kiri

TRIBUN PEKANBARU/Doddy Vladimir
Seorang anak bersepeda dengan menggunakan masker di Kota Pekanbaru, Riau. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Beberapa hari yang lalu, saya menghubungi bekas teman sekelas saya waktu kuliah. Saya menghubunginya bukan karena rindu akan kecantikan dan manisnya paras yang dia miliki. Walakin, karena dia sekarang bekerja sebagai perawat di Riau dan saya ingin tahu kabar Riau.

Saya bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaan Riau sekarang, apakah asapnya masih parah?”

Tak lama dia menjawab via BBM, “Parah kali asap di sini. Jangankan untuk liat jalan. Liat Matahari di siang bolong saja sudah susah.”

Kurang lebih sudah dua bulan Riau diselubungi kabut asap.

Bahkan, menurutnya, status darurat bencana masih diberlakukan hingga seminggu ke depan.

Itu pun dengan catatan, kondisi asap harus terus mengalami penurunan seperti yang sudah diperhitungkan dan tidak ada angin yang semakin membuat kabut asap membandel.

Banyaknya korban yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pun tak luput dari penceritaannya.

Masker sudah menjadi atribut wajib yang dikenakan di mana pun. Tidak hanya ketika di luar ruangan, tetapi juga di dalam rumah.

Data terbaru menunjukkan bahwa sekarang sudah lebih dari 27.000 orang yang berpotensi terserang penyakit tersebut. Orang tua, remaja, dan bahkan balita semuanya tak luput dari penyakit ini.

Kebakaran yang menimbulkan kabut asap ini, bila masih terus berlarut-larut, saya tak tahu akan sampai sejauh mana dampaknya.

Ini adalah peristiwa yang terus berulang sejak tahun 2006. Namun nampaknya upaya yang dilakukan oleh penegak hukum belum mengakibatkan jera bagi para pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Para pelaku sepertinya tidak peduli bahwa negara sudah mengalami kerugian cukup telak untuk menangani dampak dari kebakaran tersebut.

Bila dihitung-hitung, besaran rupiah yang keluar sudah mencapai lebih dari 20 triliun.

Dengan uang tersebut, banyak hal yang bisa dilakukan seperti perbaikan kualitas pendidikan, pengembangan riset, ataupun pembuatan infrastruktur di desa.

Bencana ini seolah memperlihatkan sebuah siklus. Siklus kerugian bangsa ini.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved