Citizen Journalism
Sampah Hari Raya
Ada yang memprihatinkan terhadap hari raya Idul Adha yang dijalani oleh umat muslim di Indonesia.
WARTA KOTA, PALMERAH - Hari raya Idul Adha sudah terlaksanakan. Kambing, sapi, kerbau ataupun unta telah diqurbankan oleh si mampu jauh-jauh hari sebagai perlombaan di dalam mencari kebaikan dan rida illahi.
Masyarakat yang tidak mampu pun ikut menyemarakan dengan mengambil ide untuk patungan/menyumbang sebisa mungkin agar dapat berqurban.
Itu semua dilakukan masyarakat muslim dengan maksud mencapai kata “beriman”.
Namun, sebelum melaksanakan penyembelihan hewan qurban, semua masyarakat Muslim diperintahkan untuk melaksanakan salat id terlebih dahulu.
Ada yang memprihatinkan terhadap hari raya Idul Adha yang dijalani oleh umat muslim di Indonesia.
Bukan prihatin dalam masalah hewan qurban itu, melainkan dalam hal sepele setelah melaksanakan salat id yaitu keprihatinan dalam hal sampah.
Sebagai ilustrasi, pagi-pagi di hari raya Idul Adha masyarakat Muslim berbondong-bondong pergi menuju masjid ataupun jalanan untuk melaksanakan salat i’d.
Bagi mereka yang bersalat i’d di jalanan, dari rumah mereka telah menyiapakan sajadah dan koran untuk alas salat.
Namun, setelah selesai salat orang-orang hanya membereskan sajadahnya saja dan meninggalkan korannya berserakan di lapangan hingga menjadi sampah.
Lapangan pun menjadi kurang nyaman dilihat, bahkan hal seperti itu dapat mencoreng nilai-nilai Islam sebagai agama yang mengajarkan kepada umatnya tentang kebersihan.
Data yang memprihatinkan terlihat di beberapa wilayah Indonesia setelah dan sebelum pelaksanaan salat id.
Di Palembang Dinas Kebersihan Kota (DKK) mengerahkan hampir 20 truk sampah dengan melibatkan 400 petugas kebersihan, termasuk petugas sapu dan angkut sampah.
DKI Jakarta suku dinas kebersihannya akan menyiagakan 10.680 petugasnya untuk disebar ke 275 titik penyelenggaraan salat i’d di Jakarta (16-7-2015).
Miris rasanya melihat petugas kebersihan yang seharusnya di hari itu mereka mendapatkan cuti malah bersiap-siap untuk membersihkan sampah akibat tidak adanya sosialisasi untuk mengingatkan “apa yang dibawa dari rumah harap dibawa kembali ke rumah” dan kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
Mereka yang sudah bersusah payah untuk berlomba dalam kebaikan agar menjadi golongan orang-orang yang beriman di hadapan-Nya, masihkah dapat dianggap beriman setelah melihat kebiasaan masyarakat Indonesia ini?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151001sampah-hari-raya_20151001_142243.jpg)