Cihuy! Napi Ini Bisa Belanja Online dari Dalam LP Salemba

E alias ES (41) bisa belanja online dan bertelepon bebas dari dalam LP Salemba saat dirinya ditahan pada Februari 2015 lalu.

Tribunnews.com
Rutan Salemba, Jakarta Pusat. 

WARTA KOTA, SEMANGGI - E alias ES (41) bisa belanja online dan bertelepon bebas dari dalam LP Salemba saat dirinya ditahan pada Februari 2015 lalu. Dia kemudian bebas pada April 2015. Dan kini kembali ditahan Polisi sejak 8 Agustus 2015 lalu.

E terlibat kasus pembobolan rekening 13 nasabah BCA lewat kartu ATM. Kini E bersama 4 rekannya sudah diringkus aparat Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada 8 Agustus 2015 lalu.

Pria keturunan Tionghoa ini selama bulan Februari 2015 sampai April 2015 lalu berbelanja online kartu ATM hasil skimming dari dalam LP Salemba. Total Ia memiliki 27 kartu ATM berbagai bank yang Ia beli di website.

Dia berbelanja online di 3 website, yakni kanoteh.com, validdump.su dan tonymontana.cc.

"Dia pakai ponsel itu beli onlinenya," ucap Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Didik Sugiarto kepada wartawan, termasuk Warta Kota saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Minggu (23/8/2015).

Namun, Didik tak mau berkomentar lebih jauh soal mengapa E bisa menggunakan ponsel di LP Salemba yang selama ini disebut-sebut memiliki jumper untuk menangkal sinyal ponsel.

Selanjutnya, Kartu-kartu ATM yang Ia beli itu bisa sampai ke tangannya lewat seorang tukang ojek mantan Narapidana yang mengambilkannya di Kantor Pos.

Setelah kartu ATM sampai di tangan E, kemudian E menyerahkannya kepada rekannya, YWR (32) yang sudah lebih dulu bebas dari penjara. Kemudian YWR lah yang melakukan penarikan uang dari setiap kartu ATM yang diberikan E.

YWR kemudian menyuruh 3 orang lainnya untuk membantunya menarik uang dari setiap kartu ATM itu. Antara lain, MFH (32), AG (34), dan Supri (31).

Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Komisaris Teuku Arsya Khadafi, mengatakan, E dan kelompoknya ini adalah eksekutor dari berbagai kartu ATM yang digandakan dengan data asli yang dibobol oleh para hacker dari data nasabah milik bank.

Namun, kelompok E tak terhubung dengan komplotan 'hacker' yang membobol data nasabah dan menggandakan kartu ATM para nasabah itu, kemudian menjualnya di 3 website berbeda.

"Komplotan yang menjual kartu atm di website ini masih kita telusuri," ujar Arsya kepada wartawan, termasuk Warta Kota, saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Minggu (23/8/2015).

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved