resensi buku
Figur Bertopi Dalam Relief Candi
Candi bukan bangunan penuh batu dan patung sebagai karya seni pahat semata.
Figur bertopi yang hanya muncul di candi-candi zaman Majapahit menjadi respons kreatif kreatornya terhadap iklim budaya pada masanya.
Figur bertopi bukan unsur kecil, tetapi memiliki makna dan fungsi penting, yang menjadi bagian dari proses kreatif tentang perkembangan baru dalam agama, budaya, masyarakat, dan politik Jawa periode Majapahit (hal 9-10).
Kieven dengan cermat meneliti aneka penggambaran dan jajaran narasi yang mengiringi kemunculan Panji sebagai figur bertopi pada dua puluh situs di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Ia mensinyalir bahwa pemilihan, penataan, dan penempatan figur bertopi dalam tata ruang candi membentuk pesan tertentu di dalam fungsi candi, baik sebagai bangunan religius, praktik keagamaan, maupun fungsi politik pada masa tertentu.
Di Candi Sonokelir, misalnya, figur bertopi merepresentasikan tokoh setengah-manusia setengah-dewa (hal 384). Ia melambangkan tokoh perantara sebagai semacam ”pemandu agama” antara dunia manusiawi peziarah dan dunia dewata candi dalam konteks simbolisme religius doktrin Tantra berupa kemanunggalan individu dengan Ilahi, yang dicapai dalam pengalaman manunggalnya Siwa dan Sakti (hal 17 dan 392).
Dalam penelitian di Candi Kendalisodo dan Panataran, penulis menemukan banyak adegan menggambarkan Panji duduk dengan sangat mesra dan erotis bersama kekasihnya, Candrakirana.
Ada juga banyak adegan Panji atau kekasihnya sedang menyeberang air. Dalam mitologi Hindu dan Buddha, penyeberangan air adalah simbol untuk maju dari satu tingkat pengetahuan kebijaksanaan ke tingkat lebih tinggi sehingga akhirnya dapat mencapai wahyu.
Tafsir itu didukung oleh banyak adegan dalam relief yang menggambarkan Panji bersama seorang pertapa, rshi, dan mendapat pengajaran ngelmu. Kombinasi unsur Tantra dengan unsur pengajaran religius dalam gambar relief ini berfungsi untuk menyampaikan pengajaran Tantra kepada para peziarah agar mereka siap untuk pelakuan ritual pada bagian sakral di candi (Kieven dalam Nurcahyo (ed), 2009). Panji sebagai figur bertopi melampaui makna simbolis imanennya.
Kisah Panji
Pertanyaannya kemudian, adakah sesuatu yang luar biasa dari cerita Panji sehingga begitu banyak artefak sejarah mengabadikannya?
Roman cerita Panji adalah kisah asli Jawa Timur, bukan adaptasi dari India seperti Ramayana dan Mahabharata. Cerita Panji, sosok pangeran sederhana dan manusiawi, adalah epik yang mengetengahkan intrik kemanusiaan dari tata negara, religiusitas, sampai ideologi (cross-gender), yang telah mengemuka pada zamannya.
Spektrum cerita Panji begitu luas. Panji tidak sekadar kisah cinta antara Panji Asmarabangun dan Sekartaji.
Panji menjadi contoh budaya Nusantara yang menyebar hingga ke Asia. Filolog Belanda, Th Pigeaud, pada awal abad ke-20 telah menyebutnya sebagai karya sastra yang telah menyebar ke Lombok, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Aceh, hingga ke Campa dan Filipina.
Sejarawan Australia, Adrian Vickers (2009), menegaskan, Panji adalah sebuah entitas yang menyediakan wawasan tentang peradaban khas Asia Tenggara.
Seturut dengannya, Dwi Cahyono (2010) berpendapat kisah konstelasi politis yang melatarbelakanginya merupakan refleksi sejarah kekuasaan dari masa Airlangga, Kertanegara, hingga Hayam Wuruk.
Ia menjadi bukti keberhasilan strategi kebudayaan dalam proses integrasi-disintegrasi-reintegrasi bangsa hingga mencapai target doktrin politik Cakra Manggala Nusantara atau bersatunya Nusantara pada masa Gajah Mada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150817figur-bertopi-dalam-relief-candi_20150817_100800.jpg)