Minggu, 31 Mei 2026

Green Tea Adventure Belajar Teh di Kebunnya

Minuman dari bahan dasar teh hijau (green tea) kian banyak diminati di negeri ini. Alasannya beragam, dari rasanya yang khas,

Tayang:
Penulis: |
warta kota cetak

Perusahaan Belanda

Perkebunan itu semula dikelola perusahaan Belanda, Tiedeman & van Kerchem, dan dibeli Haji Badruddin pada tahun 1956. Kini pengelola perkebunan itu adalah generasi ketiga dari keluarga Haji Badrudin.

“Waktu dibeli, kebun ini sudah nggak produktif, kemudian dikelola lagi dengan cermat. Sebagian tanaman teh yang ada di perkebunan ini ditanam sejak zaman penjajahan Belanda,” ungkap Teguh Kustiono, Direktur Kantor Bersama Perkebunan (KBP) Chakra, pengelola Perkebunan Teh Dewata.

Peninggalan zaman Belanda itu bukan hanya pohon teh saja. Di area itu juga terdapat bangunan pabrik pengolahan daun teh yang hingga kini masih efektif beroperasi.

Di dinding depan sebelah kanan tertera tulisan Dewata Anno 1932. Sementara di dinding dekat pintu masuk terpasang prasasti bertuliskan “De Eerste Steen is Gelegd Door Ruth Albrecht Den 17 Maart 1932.”

Teguh menyebut, kapasitas produksi per hari pabrik itu adalah 17 ton pucuk basah yang menghasilkan 4 ton plus 50 kilogram teh kering. Di pabrik itu, dari pucuk teh yang sama bisa diproses menjadi produk teh hijau maupun teh hitam.

“Tapi kami di KBP Chakra sejak awal memilih menjadi perkebunan spesialis teh hijau,” tutur Teguh. (*)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved