Sabtu, 30 Mei 2026

Green Tea Adventure Belajar Teh di Kebunnya

Minuman dari bahan dasar teh hijau (green tea) kian banyak diminati di negeri ini. Alasannya beragam, dari rasanya yang khas,

Tayang:
Penulis: |
warta kota cetak

Ciwidey, Warta Kota -- Minuman dari bahan dasar teh hijau (green tea) kian banyak diminati di negeri ini. Alasannya beragam, dari rasanya yang khas, sampai khasiatnya yang konon kaya antioksidan dan mampu meluruhkan lemak.

Namun belum banyak yang tahu bagaimana teh hijau itu diproduksi.

Manajemen PT ABC President Indonesia, produsen minuman Nü Green Tea, berinisiatif menggelar Green Tea Adventure dengan mengajak puluhan wartawan, fotografer, dan blogger mengikuti Jelajah Seru-Belajar Daun Teh Baru di Perkebunan Teh Dewata, Ciwidey, Bandung, Jawa Barat 28-29 April 2015.

“Green Tea Adventure ini konsepnya agak beda dan unik. Kami sengaja ingin memperkenalkan apa itu teh hijau, langsung dari lokasi perkebunan agar tahu bagaimana pengolahan teh dari daun teh baru, seperti apa bentuk daunnya, bagaimana cara memetik dan pemrosesannya,” kata Nurkori, Head of Marketing PT ABC President Indonesia.

Naik Land Rover

Tiba di penginapan Selasa (28/4) petang, rombongan yang dibagi delapan tim, salah satunya Warta Kota, baru meluncur ke lokasi perkebunan, Rabu (29/4) selepas subuh.

Kami menumpang kendaraan milik anggota Land Rover Club Bandung (LRCB), klub dengan jumlah pemilik kendaraan Land Rover terbanyak kedua di dunia yang dipakai sehari-hari, setelah Birmingham, Inggris.

Lokasi perkebunan itu berada sekitar 30 kilometer dari penginapan. Warta Kota menumpang Land Rover seri 3 yang diproduksi tahun 1982. Aditya (55), pemilik kendaraan itu sendiri yang mengemudikannya.

Meski usia kendaraan sudah 30 tahun lebih, tak terdengar deru mesin yang bising. Suaranya masih halus saat iring-iringan kendaraan yang kami tumpangi membelah hawa dingin, menyusuri jalanan lembab nan berbatu yang menanjak dan berkelok.

Hanya ada satu akses jalan menuju lokasi dan butuh waktu sekira tiga jam untuk sampai ke sana.

Sampai di lokasi, kami berganti armada dengan menumpang truk, layaknya para pemetik teh.

Perkebunan seluas 600 hektare ini di lembah, sekitar 15 kilometer dari Kebun Rancabolang milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Lokasi perkebunan dikelilingi hutan lindung Cagar Alam Gunung Tilu seluas 8.000 hektare.

Sarapan di tepi sungai

Area perkebunan dilintasi Sungai Cikahuripan. Kami sempat merasakan nikmatnya sarapan di tepian sungai yang airnya masih jernih itu sebelum belajar langsung memetik daun teh pucuk bersama ahlinya.

Pengelola memanfaatkan aliran sungai itu untuk mengoperasikan pembangkit listrik mikro hidro.

Perusahaan Belanda

Perkebunan itu semula dikelola perusahaan Belanda, Tiedeman & van Kerchem, dan dibeli Haji Badruddin pada tahun 1956. Kini pengelola perkebunan itu adalah generasi ketiga dari keluarga Haji Badrudin.

“Waktu dibeli, kebun ini sudah nggak produktif, kemudian dikelola lagi dengan cermat. Sebagian tanaman teh yang ada di perkebunan ini ditanam sejak zaman penjajahan Belanda,” ungkap Teguh Kustiono, Direktur Kantor Bersama Perkebunan (KBP) Chakra, pengelola Perkebunan Teh Dewata.

Peninggalan zaman Belanda itu bukan hanya pohon teh saja. Di area itu juga terdapat bangunan pabrik pengolahan daun teh yang hingga kini masih efektif beroperasi.

Di dinding depan sebelah kanan tertera tulisan Dewata Anno 1932. Sementara di dinding dekat pintu masuk terpasang prasasti bertuliskan “De Eerste Steen is Gelegd Door Ruth Albrecht Den 17 Maart 1932.”

Teguh menyebut, kapasitas produksi per hari pabrik itu adalah 17 ton pucuk basah yang menghasilkan 4 ton plus 50 kilogram teh kering. Di pabrik itu, dari pucuk teh yang sama bisa diproses menjadi produk teh hijau maupun teh hitam.

“Tapi kami di KBP Chakra sejak awal memilih menjadi perkebunan spesialis teh hijau,” tutur Teguh. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved