Fasilitas Umum
Kondisi Halte Bus di Kota Bekasi Memperihatinkan
Selain dipenuhi coretan dan atapnya keropos, beberapa halte bus berubah menjadi tempat singgah pedagang kaki lima
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Dalam sehari, Edi mengaku bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 70.000-Rp 80.000.
Kondisi seperti ini, kata Edi, tak sebanding dengan dua tahun lalu, di mana bus kota yang penuh penumpang dari Jalan Joyomartono harus belok ke kiri mengarah ke Terminal Bekasi.
Padahal sebelum ada peraturan ini, para sopir bus biasa membelokan kendarannya ke kanan atau ke Jalan Raya Ir. Juanda, kemudian menurunkan penumpang di halte bus Bulak Kapal.
"Dulu ini ramai sekali, sehari saya bisa dapat Rp 120.000-Rp 130.000. Kalau sekarang susah, karena bus tidak langsung lewat sini, melainkan harus ke terminal dulu," kata Edi.
Sementara itu, Gana (25) salah seorang penumpang angkutan umum mengeluhkan kondisi halte seperti itu. Selain terlihat semrawut, keberadaan PKL juga menganggu estetika kota.
"Nggak pantes aja kalau ada pedagang di dalam halte, padahal ini kan untuk penumpang angkutan umum," ujar warga yang tinggal di Jalan Gajah V blok G RT 02/17, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi ini.
Menurut Gana, keberadaan PKL bisa memancing sejumlah pemuda nongkrong di halte tersebut. Hal tersebut, diakuinya merasa tidak nyaman dan risih.
"Kalau ada warung pasti ada yang nongkrong dan biasanya mereka itu perokok semua. Asap rokoknya menganggu kenyamanan saat menunggu kendaraan," kata Gana.
Gana pun berharap, agar pemerintah segera membenahi halte-halte yang ada di Kota Bekasi.
Dengan demikian, para penumpang yang tengah menunggu angkutan umum akan lebih nyaman. (faf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150426kondisi-halte-bus-di-kota-bekasi-memperihatinkan_20150426_132430.jpg)