Di Penjara, Napi Pakai Smartphone untuk Bisnis Narkoba
Sejumlah mantan napi mengaku tidak sulit berkomunikasi dengan dunia luar, karena bisa menyewa ponsel milik oknum penjaga Lapas.
WARTA KOTA, JAKARTA - Larangan bagi para narapidana (napi) memiliki ponsel pribadi menjadi peluang bisnis bagi para oknum petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Sejumlah mantan napi mengaku tidak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan kerabat, klien maupun keluarganya, karena bisa menyewa ponsel milik oknum penjaga Lapas.
Lebih dari itu mereka menggunakan ponsel atau smartphone untuk melanjutkan bisnis kotor mereka dari balik jerusji. sebut saja bisnis narkoba, korupsi, dan sebagainya masih bisa mereka kendalikan dari penjara asalkan ada alat komunikasi.
Lalu, bagaimana cara penjahat mendapat hasil kejahatannya bila mereka di Lapas? "Jawabannya gampang," kata Don, mantan napi yang baru saja menghirup udara segar setelah bertahun-tahun mendekam di salah satu Lapas di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Napi sekarang ternyata sudah canggih, katanya. Mereka rata-rata memanfaatkan e-banking. Serta memanfaatkan petugas nakal sekaligus.
"Kalau bertransaksi, misalnya penipuan lewat internet, uang dari korban akan masuk ke nomor rekening bank milik pelaku. Melalui e-banking, pelaku bisa mengirim uang dari nomor rekening milik petugas. Nanti petugas akan ambilkan uang dari nomor rekeningnya dan dikasih ke penghuni Lapas itu," terang Don.
Begitu pula untuk tindak kejahatan lain yang dikendalikan dari Lapas, semisal peredaran narkoba. Uang hasil transaksi narkoba akan masuk ke nomor rekening sang bandar narkoba yang tinggal di Lapas.
Melalui e-banking, dia bisa mentransfer uang semaunya ke nomor rekening milik petugas untuk kemudian dinikmati di hotel prodeo.
Untuk jasa pengambilan uang ini, oknum petugas mengenakan fee 10 persen dari besarnya uang yang diambil. Misalnya uang yang ditransfer oleh napi ke nomor rekening petugas Rp 10 juta, maka uang yang akan diterimanya adalah Rp 9 juta.
Uang di nomor rekening penghuni Lapas, jelas Don, biasanya minta diambilkan oleh petugas sesuai keperluan di Lapas. Dan setiap ingin mengambil uang, penghuni Lapas wajib membayar jasa sebesar 10 persen dari jumlah uang yang dikirimkan ke nomor rekening si petugas nakal.
Dengan kebebasan berkomunikasi itu, Don tak heran bila banyak napi mengendalikan kejahatan dari balik jeruji. Bahkan, rata-rata bandar narkoba sekarang, katanya, lebih memilih berbisnis di Lapas. Mereka sengaja tertangkap supaya aman menjalankan bisnis haram dari Lapas.
Pemakai ponsel di Lapas santai saja. Kalau mau ada razia, kata Don, oknum petugas penjual ponsel akan memberi kabar. "Jadi, nanti pas ada razia aman karena handphone-nya sudah dikumpulkan ke dia (oknum penjual) semua," ucapnya.
Don sendiri adalah mantan napi kasus korupsi. Profesinya pengusaha. Jadi dia tak bernafsu menggunakan ponsel atau internet untuk mengendalikan suatu kejahatan di luar Lapas. Tapi, dia tahu untuk apa saja alat komunikasi itu digunakan oleh rekan-rekannya di Lapas.
Maraknya penggunaan ponsel atau laptop di Lapas juga diakui Sam, seorang mantan napi. 'Alumni' salah satu lapas di Nusa Kambangan, Jawa Tengah, itu tidak pernah kesulitan menghubungi keluarganya di rumah karena selalu ada ponsel di tangan.
Laptop-notebook