resensi buku

Bung Karno, Perintis Teater Modern Indonesia

Proklamator yang aktor itu pun pergi dalam 69 tahun, dalam sepi yang jadi teror

Oleh: Radhar Panca Dahana

WARTA KOTA, PALMERAH - Remaja sekolah menengah itu membetulkan kedua buah dadanya, yang tidak lain berupa sumpelan dua buah roti. Lalu ia menggunakan gaun, memakai bedak, dan memoleskan lipstik di bibirnya yang seksi.

Pemain drama muda itu kemudian manggung untuk kali pertamanya, sebagai aktor yang memerankan perempuan. Sebuah peran yang tidak dia lupakan, dan sangat merasa beruntung setidaknya, ”Untung saja untuk adegan itu aku tidak perlu mencium laki-laki,” kata aktor muda itu. Koesno namanya dahulu, Koesno Sosrodihardjo.

Nama Koesno itu kemudian hari, karena sering sakit-sakitan, sebagaimana tradisi Jawa, diruwat dan diganti namanya menjadi Karno, dengan awalan ”Soe” yang berarti baik. Seorang anak muda, remaja tepatnya, yang punya gairah hidup dan semangat tinggi dalam kiprah sosialnya. Anak bangsawan yang hidup prihatin, karena sejak bersekolah harus berpisah dengan orangtuanya. Tak mengherankan, dua potong roti yang jadi buntelan dadanya itu langsung habis ia lahap seusai pertunjukan.

Pengalaman manggung itulah yang antara lain menumbuhkan rasa percaya diri Soekarno muda dalam menghadapi atau berhadapan dengan orang banyak. Usia 16 tahun, tahun pertama ia di HBS (Hoogere Burger School), pemuda kecil itu sudah memperlihatkan kemampuan oratorialnya dengan berpidato di hadapan siswa-siswa sebuah studie club yang mayoritas beranggota orang asing.

Begitu lekat bakat teatrikal Soekarno dengan kemampuannya dalam memengaruhi teman, sejawat, orang banyak, bahkan lawan-lawannya. Teater seperti memberinya energi tambahan bahkan teknik berkomunikasi. Mulai dari mimik, nada bicara, bahasa tubuh, hingga permainan semantik, yang kemudian menentukan dia menjadi pemimpin pertama dari sebuah bangsa modern yang bernama Indonesia.

Jauh sebelum itu, Soekarno adalah seorang pionir dari apa yang kita sebut sebagai teater modern atau kontemporer bagi sebagian lainnya. Dua dekade lebih sebelum berdirinya sebuah akademi teater modern, ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), yang didirikan oleh mereka yang kita sebut sebagai ”bapak teater modern Indonesia”, seperti Asrul Sani dan Usmar Ismail.

Kepeloporan Soekarno tidak hanya sebagai aktor, tapi hampir menyeluruh pada bagian penting kerja teater modern, mulai penulisan naskah, penyutradaraan, artistik panggung, pelatih akting, penata busana, sampai soal manajemen, promosi juga keuangan. Semua itu harus dilakukan Soekarno, karena pada masa itu masih sangat langka pekerja-pekerja yang memiliki spesialisasi di semua bidang itu, kecuali grup toneel (Bld.) atau tonil atau drama klasik/tradisional yang ada pada masa itu seperti Komedi Stamboel, Dardanella.

Teater dan pengasingan
Di masa perjuangan kebangsaan Indonesia, kesenian memang terasa ”luxe”, dalam arti sulit dilaksanakan, di tengah kesibukan para pegiat politik atau pejuang. Namun justru kegiatan itulah yang tidak hanya menambal waktu hampa, tapi juga memberi makna bagi Soekarno, saat dibuang ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, 1934-1938.

Tak kurang dari 12 naskah teater (ada yang mengatakan 20) ia lahirkan di kota itu, dan dipentaskan dengan semangat bersama pemuda dan masyarakat setempat di panggung sebuah gereja. Pengalaman yang tidak hanya menggetarkan rakyat Ende, tapi seharusnya juga menggetarkan para pekerja, peminat, penikmat dan pengamat teater Indonesia, bila mengetahui bahwa sebelum kesadaran teater modern lahir di negeri ini, orang pertama yang mempraktikkannya adalah (justru) proklamator republik ini.

Soekarno, presiden cum seniman yang menjadi pelopor seni modern, bahkan memiliki visi (hampir seperti ramalan) yang jitu. Itu diperlihatkannya saat masa pengasingannya diperpanjang ke Bengkulu, langsung dari Ende, Februari 1938 hingga Desember 1942, tak sampai tiga tahun sebelum ia memproklamirkan kemerdekaan.

Perpanjangan masa pengasingan itu bukan berarti keleluasan kerja yang makin besar. Sebaliknya. Tapi bagi seorang kreatif seperti Soekarno, keadaan seminim apa pun, fasilitas bukan hambatan. Seperti dikisahkan Agus Setiyanto dalam buku Sandiwara Bung Karno Semasa Pengasingan di Bengkulu, 1938-1942 (ada sampul versi lain dengan isi dan penerbit sama, Bung Karno Maestro Monte Carlo), Bung Karno seperti membangun kembali dari awal perkumpulan teaternya.

Di sinilah, Bung Karno bukan hanya melahirkan belasan naskah yang sebagian besar hilang (namun menurut satu sumber ada tersimpan di kediaman Megawati, bukan Rachmawati), tapi juga semacam prognosa yang mengejutkan. Seperti naskah Tahun 1945, ia sudah mengindikasikan didapatkannya kemerdekaan bangsa Indonesia pada Agustus 1945, satu dekade sebelum itu terjadi. Atau naskah Tobero, yang merupakan singkatan dari Tokyo-Berlin-Roma yang seakan memprediksi secara jitu aliansi rezim totaliter Jerman-Jepang-Italia (Hitler-Hirohito-Mussolini) sebagai antagonis dalam Perang Dunia II.

Untuk itulah mungkin, ia melahirkan juga naskah Chungking-Djakarta, menjadi semacam proposal awal persekutuan Beijing-Djakarta-Pyongyang (China-Indonesia-Korea Utara) sebagai antitesis dari persekutuan pertama. Naskah-naskah yang secara telak sebenarnya mengekspresikan visi politik nasional dan global Soekarno.

Yang lebih mengejutkan bukan hanya visi politik itu, tapi juga visi kebudayaan untuk sebuah bangsa baru bernama Indonesia, plus visi modern dari naskah dan drama modern negeri ini. Dr. Syetan salah satunya. Ia mencoba menggambarkan bagaimana mayat atau zombie (yang orang mengatakan diilhami novel Frankenstein) sebagai bangsa yang pingsan bahkan mati dapat dihidupkan kembali oleh kekuatan elektrik, dalam hal ini teknologi, dalam pengertian lain modernitas. Sebuah genre yang belum ada pelanjutnya hingga kini.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved