Kekerasan Simbolik Pendidikan
Isi wacana, bahasa, maupun gambar yang ditampilkan dalam buku pelajaran sekolah dasar nyatanya tidak luput dari muatan kekerasan simbolik.
Salah satu kelemahan dalam buku ini adalah bahwa penulis buku berpretensi bahwa seolah-olah dalam masyarakat hanya ada dua kelas yang saling bertentangan dan mendominasi, yaitu kelas atas dan kelas bawah, di mana yang satu memaksakan habitusnya ke yang lain. Pendidikan semestinya menghilangkan kerak-kerak ideologis ini dan mengajak mereka menyadari bahwa mereka adalah sama-sama pembelajar yang memiliki kisah sejarah berbeda. Tidak setiap habitus kelas atas baik bagi kelas bawah, dan sebaliknya, tidak setiap habitus kelas bawah itu buruk. Habitus baik atau buruk mesti dinilai dari sejauh mana ia memiliki fungsi edukatif dan formatif bagi peningkatan harkat dan kemartabatan individu, tidak peduli apa pun kelas dan status sosialnya.
Pemikiran kritislah yang mampu menjadikan individu itu sebagai subyek dan pelaku yang dapat memaknai dunianya secara fair dan adil. Inilah kata kunci untuk mengatasi kekerasan simbolik pendidikan.