Senin, 18 Mei 2026

Kekerasan Simbolik Pendidikan

Isi wacana, bahasa, maupun gambar yang ditampilkan dalam buku pelajaran sekolah dasar nyatanya tidak luput dari muatan kekerasan simbolik.

Tayang: | Diperbarui:

Palmerah, Wartakotalive.com

Isi wacana, bahasa, maupun gambar yang ditampilkan dalam buku pelajaran sekolah dasar nyatanya tidak luput dari muatan kekerasan simbolik. Dalam hal ini, siswa dipaksa memasuki, berimajinasi, dan menceritakan kembali habitus orang lain yang jauh dari dunianya.

Semua bentuk kekerasan simbolik tersebut tertera dalam teks dan gambar dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE). ”Siswa dari kelas bawah dipaksa untuk mempelajari berbagai habitus kelas atas. Mereka diajak untuk melihat kebiasaan orang-orang kaya, setiap hari, setiap saat.” (halaman 191)

Sebaliknya, habitus kelas bawah digambarkan hanya sebagai obyek yang diceritakan, bukan subyek yang menceritakan. ”Kehidupan orang miskin seolah-olah hanya digambarkan sebagai sebuah hiburan, tontonan, bahan cerita, dan bahan puisi. Habitus mereka hanyalah pelengkap dan penghias saja.” (halaman 194)

Kekerasan simbolik tidak kasatmata. Ini berbeda dengan kekerasan fisik dan psikologis, seperti tawuran pelajar, perundungan, hinaan, dan pelecehan melalui kata-kata maupun tulisan. Mata publik dapat melihat, mendengar, dan merasakan adanya kekerasan fisik dan psikologis. Sebaliknya, kekerasan simbolik jarang muncul sebagai wacana pendidikan, apalagi sebagai fakta yang diperbincangkan. Padahal, kekerasan simbolik hampir mendominasi seluruh proses pendidikan yang terjadi selama ini.

Dampak kekerasan simbolik ini lebih dahsyat. Kekerasan simbolik menjadi kekuatan laten justru karena ia bermain di dalam pola pikir dan pembentukan cara memandang dunia yang mengarahkan nilai, perilaku, dan cara bertindak bagi individu, yang diterima begitu saja seolah semua itu berjalan secara normal dan wajar. Kekerasan simbolik menjebak dan menjerat individu dalam sebuah belenggu makna yang tanpa mereka sadari menindas eksistensi dan membelenggu kebebasannya untuk bertumbuh menjadi manusia yang utuh.

Pierre Bourdieu (1930-2002), yang memahami kekerasan simbolik berkait dengan relasi kekuasaan yang dimiliki oleh individu dan kaitannya dengan struktur dan sistem yang melanggengkan kekuasaan tersebut. Kekerasan simbolik perlu dipahami dalam kaitannya dengan konsep tentang modal simbolik yang dimiliki individu.

INFO BUKU
Judul Buku: Kekerasan Simbolik di Sekolah: Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu
Pengarang: Nanang Martonou Penerbit: Raja Grafindo Perkasau Cetakan: 2012
Tebal: xxviii + 240 halaman
ISBN: 978-979-769-472-2

Bagi Bourdieu, modal bukan sekadar dimaknai sebagai akumulasi materi, baik berupa uang maupun benda. Modal juga bisa dimaknai sebagai sekumpulan sumber daya, baik materi maupun nonmateri yang dimiliki seseorang, atau sekelompok, orang untuk mencapai tujuannya. Modal yang terakumulasi, terbendakan, dan menubuh dalam diri individu ini menentukan posisi mereka dalam struktur sosial. Modal seperti ini ada tiga: modal sosial (kekayaan relasi individu), modal budaya (gaya hidup, cara bertindak, dan pengetahuan), dan modal simbolik (cara individu merepresentasikan dirinya pada publik).

Modal simbolik sering kali merupakan akumulasi dari berbagai modal yang lain, yaitu budaya dan sosial, sehingga memberikan kepada individu atau kelompok sosial tertentu kekuasaan yang memungkinkan mereka mendominasi kelas sosial yang lain.

Kekerasan simbolik terjadi ketika aktor-aktor sosial dominan menerapkan makna sosial dan representasi realitas yang diinternalisasikan kepada aktor lain sebagai sesuatu yang alami dan sah, bahkan makna sosial tersebut kemudian dianggap benar oleh aktor lain tersebut. Proses ini terjadi melalui proses penanaman pemahaman, pengertian, dan pemaknaan terhadap suatu realitas secara terus menerus, sampai akhirnya terbentuk sebuah gagasan bahwa itu semua memang sudah seharusnya demikian.

Dalam konteks inilah, Bourdieu melihat bahwa praksis yang terjadi dalam dunia pendidikan memiliki potensi besar dalam rangka melakukan kekerasan simbolik, mulai dari desain kurikulum, tujuan pembelajaran, sistem disiplin di sekolah, materi yang diajarkan, nilai-nilai yang ditawarkan, cara bertindak, berperilaku, dan bersikap sampai sistem evaluasi pendidikan yang dipergunakan. Ketika proses pendidikan tanpa sadar menjadikan aktor lain sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang belajar mengerti, memahami, dan memaknai dunia, terjadilah dominasi kekuasaan dari kelompok sosial tertentu pada kelompok sosial lain. Kekerasan simbolik terjadi ketika dominasi ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan memang sudah seharusnya demikian, bahkan diterima begitu saja oleh mereka yang sesungguhnya ”tertindas”.

Prasangka kelas
Buku ini mengupas berbagai macam kekerasan simbolik dalam BSE secara terang-terangan. Kekerasan simbolik tampil dalam bahasa, isi wacana, dan gambar yang ditampilkan dalam buku pelajaran. Sebagian besar tema, teks, dan gambar yang dipresentasikan dalam buku-buku SD adalah habitus atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di kalangan kelompok sosial kelas atas, seperti cara-cara berwisata, alat-alat transportasi (mobil, pesawat terbang), kebiasaan-kebiasaan pesta (ulang tahun) dan alat permainan (play station, remote control, tamiya).

Kekerasan simbolik terjadi ketika dalam sebuah latihan soal dalam buku teks, siswa dipaksa bercerita mengenai sebuah benda yang jauh dari dunianya, dipaksa untuk berandai-andai, berimajinasi, dan memasuki, lalu menceritakan habitus orang lain.

Buku ini dengan gamblang menunjukkan bahwa dalam BSE ada prasangka kelas dalam hampir keseluruhan isinya. Bagi para guru, materi kekerasan simbolik dalam buku teks perlu disadari, agar mereka dapat menjadi pendidik yang mampu membawa siswa pada pemahaman dan pemaknaan hidup yang lebih fair dan adil. Guru bisa memilih bahasa dan representasi realitas yang lebih netral dan tidak memiliki prasangka kelas.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved