Kamis, 28 Mei 2026

Surga Ketupat Sayur Ada di Rawabelong

Makan nasi uduk dan ketupat sayur betawi tanpa semur jengkol seperti hidup kekurangan cinta

Tayang: | Diperbarui:

Palmerah, Wartakotalive.com

Harga jengkol melonjak, penggemar nasi uduk dan ketupat sayur semur jengkol kehilangan selera. ”Makan nasi uduk dan ketupat sayur betawi tanpa semur jengkol seperti hidup kekurangan cinta,” kata Yanto.

Beruntung, semur jengkol yang dicari-cari Yanto akhirnya nongol juga di Warung Ketupat Sayur 88 yang berlokasi di pertigaan Rawabelong-Kebayoran Lama-Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (19/6). Penggemar berat semur jengkol asal Ciledug itu terlihat senang sekali. Dia pun langsung memesan nasi uduk-semur jengkol.

Kami memesan ketupat sayur-semur jengkol. Kuah sayur godok yang panas itu meninggalkan jejak ebi dan aneka bumbu. Rasanya gurih dengan sedikit jejak manis. Sayur godok berisi potongan kecil kacang panjang itu memang cukup serasi dipadu dengan semur jengkol yang manis dan beraroma rempah. Legitnya jengkol berpadu dengan tekstur ketupat yang padat dan kerupuk merah yang renyah.

Malam itu, pelayan hanya memberikan empat keping semur jengkol di setiap piring ketupat sayur. Biasanya, pelayan memberikan 6-8 keping. Tapi kami bisa maklum, karena harga jengkol memang sedang menggila. Biasanya, jengkol mentah satu kilogram hanya Rp 20.000, sebulan terakhir menjadi Rp 70.000 dan turun ke angka Rp 50.000.

”Meski jengkol mahal, kita tetap ada-adain Bang. Pelanggan protes kalau enggak ada jengkol,” kata seorang pelayan di Warung Ketupat Sayur 88.

Di Warung Ketupat Sayur Bang Jaja yang berlokasi sekitar lima meter dari Ketupat Sayur 88, jengkol benar-benar lenyap dari baskom-baskom dagangannya. ”Kami enggak berani jual semur jengkol Bang, harganya terlalu mahal. Nanti kalau harganya turun, saya pasti sediain semur jengkol lagi,” kata Jaja awal Juni lalu.

Kawasan pertigaan Rawabelong boleh dikata surga bagi penggemar ketupat sayur dan nasi uduk. Di sana, ada sejumlah warung tenda yang setiap malam menjajakan nasi uduk dan ketupat sayur betawi seperti Ketupat Sayur Bang Jaja, Nasi Uduk-Ketupat Sayur 88, Nasi Uduk Bang Udin, Nasi Uduk Ketupat Sayur Bang Sahal, dan Ketupat Sayur Bang Kumis. Hampir pasti warung-warung itu menyediakan juga semur jengkol.

Hanya Warung Ketupat Sayur H Mahmud—sekitar 1 kilometer dari pertigaan Rawabelong ke arah Jalan Kebayoran Lama—yang tidak menyediakan semur jengkol. Itu sebabnya Aminah, sang pengelola warung, tidak panik ketika harga jengkol naik.

”Banyak sih konsumen cantik dan cakep yang nanyain jengkol, tapi kami memilih tidak menjualnya,” tambah Siti Aminah, menantu almarhum H Mahmud.

Alasan Aminah sederhana saja, mengolah semur jengkol terlalu makan banyak waktu dan tenaga. Jengkol harus direbus cukup lama, kemudian ditumbuk hingga gepeng, baru dimasak semur. Orang Betawi kadang memendam jengkol beberapa hari di dalam tanah sebelum diolah menjadi berbagai menu. Jengkol seperti itu disebut jengkol beweh. Rasanya lebih legit dibandingkan dengan jengkol yang tidak dipendam.

Meski tidak menyediakan semur jengkol, Warung H Mahmud yang buka pukul 07.00-17.00 selalu dijejali pembeli. Bahkan pada akhir pekan, orang rela antre untuk bisa makan di warung itu. Maklum, Warung H Mahmud menyediakan banyak menu betawi yang sedap, mulai nasi uduk, ketupat sayur godok, pindang bandeng betawi berkecap, semur tahu-tempe-telur, ayam goreng, hingga bakwan udang.

Selama Juni ini, kami beberapa kali datang ke Warung H Mahmud untuk mencicipi pindang bandengnya yang tersohor. Kuah bandeng itu berwarna kehitaman dengan jejak bumbu yang terbakar serta taburan rawit merah menantang. Kuahnya asam segar dengan kombinasi rasa manis, pedas, dan asin yang pas. Aroma daun salam, kecap, dan bumbu yang dibakar juga terasa kuat.

Kami menikmati pindang bandeng bersama ketupat sayur godok berbumbu medok dan berasa gurih karena mengandung banyak ebi. Potongan kacang panjang yang dituangkan ke piring lebih banyak dibanding warung-warung lainnya. Seperti umumnya sayur godok betawi, ada rasa manis tersamar di kuahnya. Pelanggan yang suka pedas bisa menambahkan sambal kacang yang disediakan di atas meja makan.

Aminah mengatakan, semua menu itu dimasak dengan cara tradisional. Bumbu tidak ada yang digiling dengan alat penggiling, melainkan diulek dengan cobek. ”Tidak ada rahasia dalam pengolahan makanan di warung ini. Itu mah tergantung tangan pemasaknya saja,” tambah Aminah.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved