JELAJAH MUSEUM

Cerita Tentang Basoeki Abdullah, Cinta dan Lukisan Mahakarya

Ketenarannya, tidak hanya di dalam negeri, melainkan di dunia Internasional nama beliau sudah mengangkasa.

|
Penulis: Feryanto Hadi |

SANG maestro, Basoeki Abdullah merupakan salah satu legenda seni rupa yang dimiliki Indonesia. Ketenarannya, tidak hanya di dalam negeri, melainkan di dunia Internasional nama beliau sudah mengangkasa. Beberapa petinggi negara maupun kerajaan, kerap menggunakan jasanya, seperti kerajaan Thailand, Kerajaan Belanda, Filipina dan sebagainya. Di dalam negeri, karya-karyanya banyak dijadikan inspirasi bagi para seniman lukis muda.

Dedikasi dan kecintaan yang begitu besar terhadap dunia seni, khususnya seni lukis, bida kita lihat dari niatnya yang ingin menyumbangkan karya-karya lukisnya kepada negara. Tidak hanya itu, bahkan rumah pribadi serta barang-barang koleksi pribadinya, ingin ia hibahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Kini, rumah kediaman yang terletak di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan tersebut telah beralih fungsi menjadi Museum Basoeki Abdullah.

Basoeki Abdullah, lahir di Kampung Sriwedari, Solo , Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1915. Dia adalah putera dari pasangan R. Abdullah Suryosubroto dengan R. Nganten Ngadisah yang merupakan istri kedua dari R. Abdullah Suryosubroto.

Semenjak kecil, bakat melukis Basoeki Abdullah sudah nampak. Bakat tersebut, diwarisi dari sang ayah, yang juga seorang pelukis Indonesia terkenal pada masa pemerintahan belanda saat itu, yang dikenal dengan ‘Hindia Jelita’. Aktifitas sang ibu, R. Nganten Ngadisah juga tidak jauh dari kesenian. Dia memiliki kepandaian membatik dan banyak karya batiknya yang halus dan memikat. Sedangkan kakeknya adalah tokoh pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia yaitu Dokter Wahidin Sudirohusodo.

Terinspirasi oleh sang ayah, semenjak berusia 4 tahun, Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal, diantaranya Mahatma Ghandi, Tabindranath Tagore dan Krisnamurti. Salah satu hasil karyanya yang cukup luar biasa adalah lukisan Mahatma Ghandi dengan menggunakan pensil di atas kertas. Karakter tokohnya begitu jelas dan hidup, ketika itu beliau berumur 10 tahun. Lukisan Mahatma Ghandi ini, kini bisa disaksikan di salah satu ruangan di Museum Basoeki Abdullah.

Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik Solo. Ketika menempuh pendidikan di sana, Basoeki Abdullah semakin giat untuk mengasah kemampuan melukisnya. Dan jalan terang pun diperoleh. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademi Seni Rupa di Den Haag, Belanda. Basoeki Abdullah pun menyelesaikan studinya dalam waktu yang relative singkat, yakni 2 tahun lebih dua bulan, dengan meraih penghargaan sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Jepang (1942-1945), Basoeki Abdullah bergabung dengan gerakan ‘Poetra’ (Pusat Tenaga Rakyat) yang dibentuk pada 19 Maret 1943. Di dalam gerakan ini, Basoeki Abdullah mendapatkan tugas untuk mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain di Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif di pusat kebudayaan Jepang milik Indonesia bersama Affandi, S. Sudjoyono dan lain-lain.

Di masa revolusi, Basoeki Abdullah tidak berada di tanah air, dan sampai saat ini tidak ada keterangan yang melatarbelakangi hal tersebut. Yang jelas, pada 6 September1948, dia berada di Amsterdam untuk mengikuti sayembara melukis untuk menyambut penobatan Ratu Yuliana. Dalam kesempetan tersebut, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa lain, ia menjadi pemenangnya. Keberhasilan dalam lomba tersebut memberinya kesempatan untuk memperdalam seni lukis dengan menjelajah Italia dan Perancis dimana di kedua negara tersebut dikenal sebagai tempat bermukim para pelukis dengan reputasi tinggi di dunia.

Basoeki Abdullah dikenal sebagai pelukis potret, terutama wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan, kepala negara, dengan gaya yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret ulung, ia juga melukis pemandanga alam, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basuki Abdullah, semasa hidupnya, banyak menyelenggarakan pameran tunggal di berbagai daerah dan negara antara lain Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugis dan negara-negara yang lain. Kurang lebih 22 negara diketahui memiliki karya lukis Basoeki Abdullah. Hampir sebagian besar hidup Basoeki Abdullah dihabiskan di luar negeri, diantaranya beberapa tahun di Thailand dan diangkat sebagai pelukis istana di sana. Semenjak tahun 1974, baru Basoeki Abdullah menetap di Jakarta.

Selain sebagai pelukis, Basoeki Abdullah juga dikenal sebagai penari dan sering tampil dengan tarian wayang orang dengan membawakan peran sebagai Rahwana atau Hanoman. Sebagai orang Jawa, dia juga tidak hanya menguasai soal wayang atau budaya Jawa saja, namun ia juga menggemari karya para komponis seperti Franz Schubert, Paganini dan sebagainya.

Cinta, dan Pernikahan Sang Maestro

Basoeki Abdullah menikah sebanyak empat kali selama hidupnya. Pertama, dengan Yoshepin seorang warga negara Belanda. Dari pernikahan ini, lahir seorang anak bernama Saraswati.

Pada tahun 1944, Basoeki Abdullah menikah dengan Maria Michel. Bagi Basoeki Abdullah, pernikahannya dengan Maria Michel merupakan pernikahan yang kedua dan tidak dilakukan di gereja. Setelah menikah dengan Basoeki Abdullah, Maria Michel dipanggil dengan nama Maya.

Suka dan duka mengiringi perjalanan pasangan Basoeki dan Michel. Namun, magligai cinta mereka tidak berjalan mulus. Pada tahun 1956, perkawinan antara Basoeki Abdullah dengan Maria Michel kandas di tengah perjalanan. Selama menjalani pernikahan, mereka tidak dikaruniai anak.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved