Jumat, 10 April 2026

Jepang Perkenalkan Kolam Resapan Air Bawah Tanah

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bekerja sama dengan Japan International Coordination Agency (JICA) membuat proyek percontohan (pilot project)

|

Cawang, Wartakotalive.com

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bekerja sama dengan Japan International Coordination Agency (JICA) membuat proyek percontohan (pilot project) berupa kolam resapan bawah tanah.

Meski di bawah tanah ada kolam resapan, lahan pada bagian atasnya bisa dimanfaatkan sebagai lahan parkir, stadion, atau lainnya. Rencananya proyek percontohan itu dibuat di lahan parkir kantor Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Kalimalang, Jakarta Timur.

Kolam resapan yang diberi nama run off control rainwater storage infiltration facility (RSIF) ini mempunyai ukuran 9 meter x 9 meter dengan kedalaman 1,7 meter. Kolam ini sudah ada dibangun di Jepang selama 10 tahun terakhir ini dan sudah 2.000 kolam resapan bawah tanah. Kolam itu mulai dibangun sejak Oktober 2012 dan rampung Desember mendatang.

Kolam resapan bawah tanah diyakini dapat menjadi salah satu pengendali banjir dan mengurangi beban sungai serta sekaligus membuat air tanah di Jakarta terpelihara.

Proyek percontohan itu akan dipantau apakah efektif atau tidak sampai Maret 2013. Jika efektif dan perlu dibangun, kolam serupa akan dibangun di Lapangan Banteng dengan ukuran yang lebih besar.

"Pemerintah Jepang telah menggunakan teknologi kolam resapan ini untuk mengatasi kawasan rawan genangan di sejumlah tempat di Jepang. Untuk Jakarta, teknologi itu dapat digunakan untuk mengendalikan limpasan air hujan ke sungai sehingga bisa mengendalikan luapan sungai di saat hujan," kata Tanaka Takaya, Chief Advisor JICA.

Takaya memaparkan proyek percontohan itu kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta di Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Rabu (7/11).

Tanaka mengatakan, cara kerja kolam ini memiliki prinsip sama dengan sumur resapan. Perbedaannya ada pada papan cross wave dari plastik, sebagai pengganti batu kali, yang berfungsi menjaga kestabilan tanah dan air yang teresap agar bisa tertahan selama mungkin.

Untuk proyek percontohan yang dibangun di lahan Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane kolam penampungan itu mempunyai volume 138 meter kubik.

Resapan air

Imam Santoso, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, mengatakan, proyek ini sejalan dengan ide-ide pembuatan resapan air di Jakarta.

"Selama ini ada ide waduk resapan, sumur resapan, dan lubang biopori. Masalahnya dengan model seperti itu lahannya harus kosong atau paling banter ditanami tumbuhan," katanya.

Sementara dengan teknologi ini, kata Iman, lahan pada bagian atas kolam dapat digunakan untuk parkir, lapangan olahraga, dan lain-lain. Bahkan kendaraan dapat melintas di atasnya, karena kolam itu dapat menahan beban hingga 45 ton.

Menurut Imam, biaya pembuatan kolam penampungan ini masih terbilang mahal karena material papan cross wave masih didatangkan dari Jepang. Harga satu meter kubik papan itu mencapai Rp 3 juta.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved