Areal Rumah Cimanggis Ditargetkan Jadi Ruang Terbuka Hijau

Kemenag sendiri saat ini sedang membangun UIII di sekitar bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda itu.

Areal Rumah Cimanggis Ditargetkan Jadi Ruang Terbuka Hijau
Warta Kota/Gopis Simatupang
Rumah Cimanggis, Depok. 

BANGUNAN cagar budaya Rumah Cimanggis yang terletak di Jalan Radio Raya, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, berdiri di atas lahan eks RRI milik Kementerian Agama.

Kemenag sendiri saat ini sedang membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di sekitar bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda itu.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Depok (Disporyata), Wijayanto, mengatakan, karena aset merupakan milik Kemenag, saat ini pihaknya belum bisa mengeluarkan anggaran pemeliharaan situs sejarah, yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada 24 September 2018 lalu, itu.

Karenanya, Pemerintah Kota Depok melalui Disporyata berniat mengajukan permohonan kepada Kemenag agar menyerahkan sebagian lahannya.

Warga Gelar Syukuran di Rumah Cimanggis, Bangunan Cagar Budaya di Depok

BREAKING NEWS: CVR Pesawat Lion Air PK-LQP Berhasil Ditemukan

Bila dikabulkan, Wijayanto membayangkan area Rumah Cimanggis, yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Petrus Albertus Van der Parra pada tahun 1775 itu, menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

"Kami berencana meminta sebagian kawasan untuk diserahkan kepada Pemerintah Kota Depok dalam bentuk kawasan hijau atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang Rumah Tua Cimanggis ini ada di dalamnya," ujar Wijayanto kepada wartawan, Senin (14/1/2019).

Wijayanto menuturkan, apabila permohonan pengalihan lahan disetujui oleh Kemenag, pihaknya memang berencana, bukan hanya merevitalisasi atau merehabilitasi bangunan Rumah Cimanggis ke bentuk aslinya, namun juga menata kawasan sekitar menjadi ruang publik.

Untuk sementara ini, lanjutnya, masa depan Rumah Cimanggis belum ditentukan. Entah menjadi semacam museum atau bentuk wisata edukasi lainnya.

"Kalau jadi museum itu nanti langkah berikutnya. Karena kan bukan sekadar barang, tapi juga isi. Tapi intinya ini bagaimana supaya lestari, ornamen-ornamen dilestarikan, artefaknya dilihat lagi lewat tim ahli, sejarawan. Ini sampai bentuk-bentuk ukirannya itu enggak sembarangan juga. Kalaupun kita bikin harus seperti itu lagi," bilang Wijayanto.

Sampai kelanjutan nasib Rumah Cimanggis diputuskan, dia berharap pengunjung menjaga kelestarian rumah tua yang dulu bernama Landhuis Tjimanggis, itu.

Klinik di Cakung Kebakaran Saat Ditinggal Pegawainya

Sukses Antarkan Persija Juara Liga 1 2018, Teco Hijrah ke Bali United

"Saya harapkan nanti, siapa pun yang datang jangan sampai menyentuh apalagi merusak bangunan. Karena bangunan ini sensitif sekali karena sudah sangat tua. Kalau pun mau foto-foto tolong jangan menyentuh."

"Misalnya nanti kita lihat talang mau jatuh, kita sok-sokan ngebersihin. Itu tolong jangan disentuh dulu. Biar ahlinya yang menentukan. Karena sudah ada tim ahli dua kali ke sini. Baik tim ahli dari Provinsi, maupun tim ahli tingkat nasional telah melakukan kajian. Jadi saya berharap kita semua berupaya menjaga keaslian dari bangunan ini," katanya.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved