Kanker Serviks

Waspada, Mayoritas Kanker Serviks Tak Tercegah

Yang terjadi, mayoritas pasien datang ke dokter setelah mengalami kanker sampai tahap stadium lanjut.

Waspada, Mayoritas Kanker Serviks Tak Tercegah
Kompas.com
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Kanker leher rahim, yang merupakan penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi kasus kanker pada perempuan di Indonesia, sebenarnya dapat dicegah. Yang terjadi, mayoritas pasien datang ke dokter setelah mengalami kanker sampai tahap stadium lanjut.

”Jangan menunggu ada keluhan, periksalah ke dokter. Tidak ada cara lain. Kalau sudah ada keluhan, obati,” kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan pada Divisi Onkologi Ginekologi Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Cipto Mangunkusumo-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dewi Anggraeni, dalam seminar ”Bersama Kita Menanggulangi Kanker” dalam memperingati ulang tahun ke-37 Yayasan Kanker Indonesia (YKI), di Jakarta, Selasa (22/4).

Turut berbicara, di antaranya, Ketua Umum YKI Nila F Moeloek dan dokter spesialis bedah dari Divisi Onkologi Departemen Bedah FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Diani Kartini.

Anggraeni memaparkan, sekitar 76,6 persen pasien kanker leher rahim datang ke dokter ketika telah stadium lanjut (stadium IIIB ke atas). Akibatnya, penanganan oleh dokter pun terlambat.

Pada stadium awal, kanker leher rahim tak menimbulkan keluhan. Namun, itu bukan alasan tak memeriksakan diri karena siapa pun bisa terkena virus HPV (human papilloma virus), penyebab kanker leher rahim.

Kanker leher rahim bisa dicegah dengan vaksin serta dideteksi dengan pap smear dan inspeksi visual asam asetat (IVA). Deteksi dini akan memungkinkan pasien terhindar dari dampak terburuk kanker. Dari sisi biaya pun lebih murah dibandingkan dengan mengobati.

Sayangnya, saat ini cakupan penapisan kanker leher rahim juga sangat rendah, yakni di bawah 5 persen. Idealnya, cakupan penapisan paling tidak 80 persen. Penyebabnya, bisa berbagai hal, mulai dari finansial, sosial budaya, hingga sikap dan perilaku individu.

Dokter sebagai tenaga kesehatan juga berkontribusi pada rendahnya cakupan penapisan kanker serviks. Contohnya, masih ada dokter yang enggan memeriksa pasien. Dokter sebagai lini terdepan tidak menawarkan pemeriksaan kepada pasien jika pasien tidak meminta.

Deteksi dini
Menurut Anggraeni, pemerintah bisa menggratiskan biaya deteksi dini kanker leher rahim agar kian banyak perempuan terselamatkan. Deteksi dini juga penting bagi kanker payudara.

Berbeda dengan kanker payudara yang bisa terdeteksi dengan rabaan, deteksi dini kanker serviks butuh bantuan dokter. Semakin dini ditemukan gejala kanker, akan semakin baik juga penanganannya sehingga kualitas hidup pasien terus meningkat.

”Selama ini, pasien datang ke dokter setelah mencoba berbagai metode pengobatan alternatif dan gagal,” kata Diani Kartini.

Nila Moeloek menyampaikan, mengedukasi masyarakat agar melakukan deteksi kanker sedini mungkin menjadi fokus perhatian YKI. Dengan demikian, kanker dapat cepat disembuhkan dan diobati dengan tepat. (ADH)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved