Demo Mahasiswa
Pengamat Politik Sayangkan Aksi Mahasiswa Bubarkan Diskusi di UGM
Ayip Tayana menyayangkan pembubaran diskusi tiga pejabat negara di UGM dan minta kampus tetap jadi ruang dialog yang sehat.
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Dian Anditya Mutiara
Ringkasan Berita:
- Pengamat Ayip Tayana menilai kampus harus menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan.
- Kehadiran Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, dan Sudaryono di UGM dinilai sebagai bentuk keterbukaan pejabat terhadap kritik.
- Ayip meminta pemerintah dan mahasiswa sama-sama menjaga ruang diskusi agar demokrasi berjalan sehat.
WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS - Sejumlah mahasiswa membubarkan diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026) mendapat sorotan publik.
Pejabat negara yang hadir adalah Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Pengamat politik, Ayip Tayana menyayangkan kejadian pembubaran kegiatan diskusi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa.
Ayip menyatakan, kampus seharusnya menjadi ruang dialog dan menguji setiap gagasan diuji serta memberi kesempatan kepada semua pihak untuk berbicara dan menjelaskan pandangannya.
Baca juga: Tegang! Mahasiswa Bubarkan Diskusi di UGM, Nusron-Sudaryono Sempat Dikepung Massa
Ia menilai, para mahasiswa boleh saja marah dan mengajukan pertanyaan kritis kepada pemerintah. Namun di sana tidak terjadi dialog melainkan menyudutkan tiga pejabat negara.
"Peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi demokrasi kita. Forum yang menghadirkan Sudaryono, Nusron Wahid, dan Budiman Sudjatmiko itu awalnya dimaksudkan sebagai ruang dialog antara pejabat publik dengan mahasiswa."
"Namun, suasana kemudian berubah, muncul teriakan, poster penolakan, dan tekanan yang membuat forum tidak berjalan sebagaimana mestinya," ujar pria yang jabat Direktur Eksekutif Indeks Data Nasional (IDN), Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Sudaryono Akui Ada Pelemparan Air saat Diskusi UGM Memanas
Menurut Ayip, apa yang dilakukan oleh ketiga pejabat publik itu sebenarnya baik bagi demokrasi karena mengajak mahasiswa untuk berdialog.
Mereka memilih hadir langsung ke kampus, dan siap dicecar dengan sejumlab pertanyaan oleh mahasiswa dan bersedia dievaluasi oleh audiens.
Terlebih selama ini pejabat kerap dikritik jauh dari masyarakat, dan hanya berbicara di forum yang aman. Namun, ketika kesempatan itu hadir di UGM justru berubah menjadi ruang penghakiman.
Baca juga: Soal Demo Mahasiswa, Istana Minta Rakyat Mendukung Prabowo Bukan Mendemo
"Di sinilah letak paradoksnya, selama ini pejabat sering dikritik karena dianggap jauh dari masyarakat, tidak mau datang ke kampus, mereka hanya mau bicara di forum yang aman," ungkapnya.
"Tetapi saat ada pejabat yang datang langsung ke kampus 'tanpa tedeng aling-aling', duduk berhadapan dengan mahasiswa, membuka ruang diskusi, dan terbuka terhadap kritik, forum justru berubah menjadi ruang penghakiman," sambungnya.
Ayip meminta forum diskusi pejabat publik dengan mahasiswa harus diperbanyak lagi demi memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Ia juga menyarankan agar pemerintah berani hadir di tempat yang kritis, bahkan di hadapan orang-orang yang tidak suka dengan mereka.
| Unjuk Rasa di Jakarta Hari Ini, Polda Metro Jaya Siapkan 4.961 Personel untuk Amankan Aksi Demo |
|
|---|
| Demo Mahasiswa Kembali Berlangsung di 5 Lokasi Jakarta, ini Tuntutannya |
|
|---|
| GMNI Jakarta Selatan Minta Kapolda Metro Jaya Minta Maaf soal Insiden Pancoran |
|
|---|
| Gibran Dengan Rendah Hati Akui Pemerintah Banyak Kekurangan di Depan Mahasiswa. |
|
|---|
| Sudaryono Akui Ada Pelemparan Air saat Diskusi UGM Memanas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kronologi-diskusi-di-UGM-berujung-ricuh.jpg)