Berita Internasional
Israel Disebut Siksa Lebih Parah Relawan Non Kulit Putih
Pihak tentara Israel disebut lebih kejam terhadap relawan non kulit putih yang diculik di perairan internasional.
WARTAKOTALIVE.COM - Pihak tentara Israel disebut lebih kejam terhadap relawan non kulit putih yang diculik di perairan internasional.
Relawan yang menjadi korban penculikan tentara Israel menceritakan kekejaman tentara Israel saat mereka diculik ke Pelabuhan Ashdod saat hendak ke Palestina melalui jalur laut.
Dalam video seorang kapten kapal yang tergabung dalam pelayaran Global Sumud Flotilla menjelaskan bahwa dirinya disiksa oleh pihak Israel saat ditangkap.
Akibatnya punggungnya sepenuhnya tertutup dengan memar besar.
Kapten kapal itu juga menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan penyiksaan yang tidak terlalu parah karena merupakan orang kulit putih.
Beberapa rekannya yang dari Arab dan non kulit putih disiksa lebih parah oleh Israel.
Suasana mengharukan terjadi saat ratusan relawan Global Sumud Flotila tiba di Bandara Istanbul Turki pada Kamis (21/5/2026).
Momen ketiban para relawan yang hendak ke Gaza namun diculik tentara Israel itu dibagikan salah satu akun relawan di X Sarah Wilkinson.
Berbagai ras manusia mulai dari Arab, Eropa, hingga Asia turun dari pesawat yang membawa mereka keluar dari zona Israel.
Para relawan itu terlihat bahagia tertawa saat bisa turun dari pesawat. Mereka terlihat memakai Kafiyeh selendang khas Palestina saat tiba di Istanbul.
Seorang pejabat Turki pun menyambut ketibaan para relawan.
Beberapa mereka mengaku dari Malaysia hingga ada yang mengucapkan terima kasih dengan Bahasa Indonesia.
Baca juga: Cerita Relawan WNI GSF Mengaku Sempat Disetrum & Dipukul oleh Tentara Israel
“Pelepasan gbsumudflotilla menerima sambutan hangat saat mereka turun dari pesawat di Türkiye: kemenangan sedang berjuang, kejahatan adalah Israel @thiagoavilabr,” tulis pengunggah.
Saat di bus, para relawan Global Sumud Flotilla itu meneriakkan Free Palestine.
Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 sempat diwarnai ketegangan saat sejumlah relawannya, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), ditangkap oleh pihak militer Israel.