Jumat, 22 Mei 2026

Tarif Ojol

Driver Ojol Senang Tarif Hemat Dihapus, tapi Waswas Ada Potongan Baru

Driver ojol menyambut penghapusan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat. Namun, mereka khawatir muncul skema baru yang memberatkan.

Tayang:
Wartakotalive.com/Mochammad Dipa
TARIF OJOL - Penghapusan tarif GoRide Hemat dan GrabHemat melegakan para driver ojek online. Foto Gojek resmi pembukaan Shelter Goride Instant Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (12/6/2023). Shelter ini berada di sisi barat Stasiun Palmerah dan disamping Halte Transjakarta Pasar Palmerah. 
Ringkasan Berita:
  • Driver ojol menyambut positif penghapusan layanan Hemat karena tarif dinilai terlalu rendah.
  • Pengemudi khawatir aplikator menghadirkan sistem baru yang justru lebih memberatkan.
  • Gojek akan menurunkan potongan komisi menjadi 8 persen per perjalanan.

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pengemudi ojek online (ojol) menyambut positif keputusan penghapusan layanan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat.

Mereka menilai kebijakan tersebut dapat membuat pendapatan driver lebih layak dibanding sebelumnya, mengingat tarif layanan Hemat selama ini dinilai terlalu rendah.

Sejumlah pengemudi mengaku kerap menghadapi kondisi tarif kecil dengan jarak penjemputan penumpang yang cukup jauh, sehingga penghasilan dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional di lapangan.

Driver Khawatir Muncul Sistem Baru

Abdul (31), seorang pengemudi ojol di Jakarta, menilai penghapusan GoRide Hemat kemungkinan tidak terlalu memengaruhi jumlah order harian.

“Kalau Hemat dihapus sih kayaknya enggak begitu ngaruh ke orderan. Cuma bakal berdampak kalau semuanya jadi reguler lagi,” kata Abdul saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Grab Tawarkan Jaminan Uang Kembali hingga Rp3,3 Juta Jika Penumpang Ketinggalan Pesawat

Menurut Abdul, dalam layanan GoRide Hemat terdapat program yang dikenal di kalangan driver sebagai “langcor” atau langganan gacor, yang digunakan sebagian pengemudi untuk membantu mendapatkan order lebih banyak.

Ia juga menyebut adanya layanan lain seperti “mitra jarak dekat” yang konsepnya hampir serupa dengan GoRide Hemat.

“Kalau GoRide Hemat dihapus, bisa jadi layanan mitra jarak dekat yang baru jalan sekitar dua bulan juga ikut dihapus. Tapi kalau argo goceng kemungkinan masih ada,” ujarnya.

Meski mendukung penghentian layanan Hemat, Abdul mengaku khawatir jika nantinya perusahaan aplikasi menghadirkan skema baru dengan potongan lebih besar.

“Kalau buat saya sih bagus Hemat diberhentiin. Cuma takutnya nanti muncul lagi yang lebih parah dari Hemat,” katanya.

Ia mencontohkan, selama ini dalam layanan GoRide Hemat driver bisa menerima sekitar Rp 10.500 dari tarif pelanggan Rp 15.000.

“Nanti bisa saja customer bayar Rp 14.000, tapi driver cuma dapat Rp 10.400. Itu malah bisa lebih berat,” tambahnya.

Baca juga: Gojek Buka Suara soal Aturan Komisi Maksimal 8 Persen

Jarak Jemput Dinilai Terlalu Jauh

Selain soal tarif, Abdul menyoroti jarak penjemputan pada layanan Hemat yang kerap terlalu jauh.

Menurut dia, saat hujan atau jam sibuk, order GoRide Hemat sering sulit diambil karena jarak jemput bisa mencapai 2 hingga 5 kilometer.

“Kadang jarak jemputnya bisa 2 sampai 5 kilometer. Jadi bukan driver enggak mau ambil order, tapi memang kejauhan,” katanya.

Driver Pilih Fokus Cari Order

Pengemudi lain, Andi (35), mengaku tidak terlalu mempermasalahkan perubahan sistem selama order tetap stabil.

“Kalau saya sih jalanin aja. Mau sistem apa pun, yang penting orderan stabil,” ujar Andi.

Ia menilai perubahan aturan dari aplikator sudah menjadi hal biasa bagi para pengemudi.

“Selama masih bisa narik dan masih ada penumpang, ya tetap dijalani,” ucapnya.

Tarif Hemat Dinilai Kurang Layak

Di Tangerang Selatan, Cecep (45) menilai layanan Hemat membuat pendapatan driver tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap hari.

“Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab Indonesia dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi,” katanya.

Hal serupa disampaikan Anjas (29), yang menyebut selama ini driver harus membayar biaya tertentu untuk masuk ke layanan tarif Hemat.

“Kalau hemat itu berbayar. Kita bayar buat masuk ke Bike Hemat, ke argo-argo hemat,” ujar Anjas.

Ia menjelaskan, potongan biaya tersebut berbeda-beda tergantung jumlah order yang diperoleh dalam sehari.

Harap Potongan Komisi Berkurang

Pengemudi di Bekasi juga menyambut baik penghapusan layanan Hemat dan rencana penurunan potongan komisi aplikasi.

Tugiyat (52), mitra pengemudi Gojek, berharap kebijakan baru dapat meningkatkan pendapatan bersih driver.

“Semoga bebannya berkurang, tapi pendapatan per trip-nya nambah,” ujarnya.

Sementara itu, Supratman (50), pengemudi Grab, menilai potongan komisi sebesar 20 persen selama ini terlalu besar.

“Kalau potongannya diperkecil kan kitanya enggak terlalu beban banget,” katanya.

Sebagai informasi, Grab dan Gojek resmi menghentikan program langganan akses layanan Hemat bagi mitra pengemudi sejak Selasa (19/5/2026).

Kebijakan ini disebut sebagai tindak lanjut arahan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi.

Ke depan, Gojek juga akan menerapkan potongan komisi sebesar 8 persen per perjalanan, turun dari sebelumnya yang sempat mencapai 20 persen.

Meski demikian, layanan perjalanan murah seperti GrabBike Hemat dan GoRide Hemat disebut masih tetap tersedia bagi konsumen dengan sejumlah penyesuaian tarif. (*)

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved