Jumat, 15 Mei 2026

Berita Nasional

Apakah Idul Adha 2026 Muhammadiyah dan NU akan Jatuh Bersamaan?

Lebaran Haji atau Idul Adha 1447 Hijriah akan berlangsung pekan depan. 

Tayang:
Editor: Desy Selviany
WartaKota/Alfian Firmansyah
Ratusan jemaah laksanakan salat Idul Adha 1445 di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Senin (17/6/2024). 

WARTAKOTALIVE.COM -Lebaran Haji atau Idul Adha 1447 Hijriah akan berlangsung pekan depan. 

Namun yang menjadi pertanyaan apakah Idul Adha 2026 akan berbeda di antara umat Islam Indonesia seperti Idul Fitri 1447 Hijriah lalu? 

Sebab diketahui dua organisasi masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki metode penghitungan berbeda untuk Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. 

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Agama RI biasanya akan melakukan Sidang Isbat terlebih dahulu dalam menentukan momen besar umat Islam tersebut. 

Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat (penetapan) awal Zulhijah 1447 H pada 29 Zulkaidah 1447 H yang bertepatan 17 Mei 2026.  

Sidang ini juga akan mengumumkan kapan Hari Raya Iduladha 1447 H bagi umat Islam di Indonesia. 

Sidang isbat dijadwalkan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, kantor layanan Kementerian Agama, Jakarta.  

Sidang ini menjadi bagian dari mekanisme pemerintah dalam penentuan awal bulan Hijriah. 

“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad saat memimpin rapat persiapan sidang isbat di Jakarta, Selasa (5/5/2026) dalam keterangan tertulis.  

Rapat koordinasi ini melibatkan berbagai unsur terkait, baik dari internal Kementerian Agama maupun lembaga mitra. 

Ia menjelaskan, proses penetapan awal Zulhijah dilakukan dengan mengintegrasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).  

Kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam menghasilkan keputusan yang komprehensif. 

Menurutnya, data hisab memberikan gambaran awal posisi hilal, sementara rukyat menjadi konfirmasi faktual melalui pengamatan langsung di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.  

“Pendekatan ini memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data ilmiah, tetapi juga terkonfirmasi melalui pengamatan lapangan,” jelasnya. 

Rangkaian sidang isbat akan diawali dengan seminar posisi hilal yang memaparkan data astronomi dari Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.  

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved