Jumat, 8 Mei 2026

Berita Karawang

Budayawan Sebut Dedi Mulyadi Ngaco dan Lupakan Sejarah, Soal Rute Kirab Budaya Karawang

Kirab Budaya dalam rangka Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang menuai kritik tajam dari kalangan budayawan.

Tayang:
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota/Muhammad Azzam
DEDI MULYADI NGACO - Budayawan Karawang, Nace Permana, secara terang-terangan melayangkan kritik kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menyebut sang Gubernur ngaco dalam menyusun skenario perjalanan Kirab Mahkota Binokasih yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) mendatang, karena mengabaikan fakta sejarah. 

Ringkasan Berita:
  • Budayawan Nace Permana menilai rute Kirab Mahkota Binokasih pada Sabtu (9/5/2026) tidak memiliki dasar sejarah yang kuat karena tidak melibatkan Masjid Agung Karawang.
  • Pemilihan titik awal di Horizon University dianggap mengabaikan jejak penting Prabu Siliwangi yang masuk Islam usai terpikat lantunan mengaji Subang Larang di Masjid Agung Syekh Quro 
  • Meski kirab budaya direncanakan sangat megah dengan partisipasi 26 daerah, budayawan menyayangkan kurang pemaknaan nilai luhur sejarah

WARTAKOTALIVE.COM, KARAWANG -- Pelaksanaan Kirab Budaya dalam rangka Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang menuai kritik tajam dari kalangan budayawan.

Agenda besar yang mengusung tema Binokasih Mulang Salaka tersebut dinilai hanya mengejar kemeriahan visual namun kehilangan esensi historis akibat penentuan rute yang dianggap asal-asalan.

Budayawan Karawang, Nace Permana, secara terang-terangan melayangkan kritik kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Baca juga: Seleksi Dirut Petrogas Karawang Dibuka Lagi, Ini Syarat dan Batas Usianya

Ia menyebut sang Gubernur ngaco dalam menyusun skenario perjalanan Kirab Mahkota Binokasih yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) mendatang.

Titik Awal yang Dipertanyakan

Kritik utama Nace tertuju pada pemilihan titik start kirab yang dimulai dari Horizon University Indonesia di Jalan Pangkal Perjuangan, Tanjung Pura, dan berakhir di Kantor Bupati Karawang.

Menurutnya, lokasi tersebut tidak memiliki keterikatan sejarah dengan jejak Prabu Siliwangi di Karawang.

"Saya pikir ini sangat ngacolah kalau menurut saya. Lokasi rute di Horizon itu tidak memiliki catatan sejarah awal permulaan keberadaan Eyang Prabu," ujar Nace yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban dan Seniman Jawa Barat, Rabu (6/5/2026).

Nace menegaskan, jika semangat yang diusung adalah 'Napak Tilas Padjadjaran', seharusnya titik keberangkatan dimulai dari Masjid Agung Syekh Quro.

Tempat tersebut adalah saksi bisu peristiwa besar dalam sejarah Sunda.

Baca juga: Puncak Imlek Festival 2026 di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, Kirab hingga Dihadiri Wapres Gibran

Melupakan Jejak Masjid Agung Syekh Quro

Dalam catatan sejarah, Masjid Agung Karawang merupakan tempat bertemunya Prabu Siliwangi dengan Ibu Subang Larang.

Nace mengisahkan bahwa pada abad ke-14, Prabu Siliwangi datang ke Karawang untuk membubarkan pengajian Syekh Quro, yang kala itu dikawal Panglima Perang Muslim dari Dinasti Ming, Tiongkok, yakni Cheng Ho.

Namun justru terpikat oleh lantunan ayat suci dari Subang Larang hingga akhirnya meminangnya dan memeluk Islam.

"Jadi bukan asal prung (mulai). Hari ini kita melihat kirab cukup megah, tapi nilai pemaknaan sejarahnya kurang mengena. Sangat disayangkan jika Pemprov Jabar ingin melestarikan budaya tapi tidak mengikuti catatan sejarah yang ada," tegas Nace.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved