Selasa, 28 April 2026

Perang AS Vs Iran

Memanas, Iran Temui Putin Saat Perundingan dengan AS Buntu

Memanas, Iran Temui Putin Saat Perundingan dengan AS Buntu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di St. Petersburg pada Senin (27/4/2026)

Telegram/s_a_araghchi
IRAN TEMUI PUTIN - Di tengah kebuntuan negosiasi damai dengan Washington, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di St. Petersburg pada Senin (27/4/2026) untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Kunjungan ini menandai pergeseran strategis Teheran yang kian merapat ke Moskow saat tekanan blokade Amerika Serikat mulai mencekik ekonomi kawasan. 

Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, menegaskan perintah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei bahwa Selat Hormuz "dalam kondisi apa pun" tidak akan kembali ke status semula.

Teheran sesumbar bahwa kemampuan mereka menutup Hormuz dan Bab al-Mandab dapat melumpuhkan 25 persen ekonomi global.

Saat ini, blokade AS dilaporkan telah menahan 38 kapal yang mencoba keluar-masuk pelabuhan Iran.

Aliansi Strategis Iran-Rusia

Pertemuan Araghchi dan Putin fokus pada koordinasi interaksi regional serta kemajuan program bersama di tingkat internasional.

Meski Moskow menawarkan diri untuk menampung atau memproses ulang uranium yang diperkaya milik Iran, Presiden Donald Trump dilaporkan telah menolak proposal tersebut.

Hubungan kedua negara semakin solid pasca-penandatanganan perjanjian kemitraan 20 tahun pada Januari 2025. Rusia, yang memandang serangan AS ke Iran sebagai "agresi tanpa provokasi", dilaporkan mulai memberikan data intelijen mengenai pergerakan pasukan dan kapal perang Amerika kepada Teheran sejak Maret lalu.

Trump: "Silakan Hubungi Saya Jika Ingin Bicara"

Di sisi lain, Presiden Donald Trump membela keputusannya membatalkan pengiriman utusan ke Pakistan pekan lalu.

Dengan gaya retorika khasnya, Trump menyatakan bahwa otoritas Iran "bisa menelepon" jika memang serius ingin berunding, sembari mengklaim bahwa perang bisa berakhir "sangat segera".

Trump juga melontarkan klaim kontroversial bahwa pipa minyak Iran bisa "meledak" dalam tiga hari jika ekspor terus diblokade—pernyataan yang dibantah para ahli karena produsen biasanya akan memangkas produksi sebelum tangki penyimpanan penuh untuk menghindari ledakan teknis.

Baca juga: Respon Obama Soal Penembakan Donald Trump, Singgung Soal Motif

Eskalasi Regional: Hadirnya "Iron Dome" di UAE

Ketegangan tidak hanya terjadi di meja diplomasi.

Kerja sama militer di Timur Tengah mencapai level baru setelah Israel dilaporkan secara rahasia mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome dan puluhan prajurit ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghadapi ancaman Iran.

Sementara itu, gencatan senjata di Lebanon terus goyah menyusul perintah evakuasi Israel di tujuh desa wilayah selatan yang menargetkan infrastruktur Hizbullah.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved