Berita Nasional
Akademisi hingga Pengusaha Tanggapi Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, Ini Kata Mereka
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Irwan Wahyu Kintoko
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global
- Memanasnya konflik geopolitik itu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan utama dalam penentuan harga BBM di dalam negeri
- Kenaikan harga tersebut bukan semata-mata keputusan internal pemerintah, melainkan respons terhadap meningkatnya risiko pasokan dan ketidakpastian global
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global akibat memanasnya konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Sekjen HIPMI), Anggawira.
Memanasnya konflik geopolitik itu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan utama dalam penentuan harga BBM di dalam negeri.
Anggawira mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar energi global yang saling terhubung.
Baca juga: Ada Isu BBM Bakal Naik Jadi Rp16.500, Ini Kata Bahlil dan Pertamina
Dia menilai, Indonesia tidak memiliki kendali penuh atas fluktuasi harga minyak dunia yang saat ini mengalami tekanan signifikan.
"Kenaikan harga BBM non-subsidi dalam situasi geopolitik seperti sekarang memang wajar dan sulit dihindari," kata Anggawira dalam keterangan resminya, Selasa (32/3/2026).
"Harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, biaya pengapalan, dan premi risiko akibat konflik," lanjutnya.
Ia menjelaskan, harga minyak jenis Brent yang telah bergerak di kisaran 100 hingga 115 dollar AS per barel, bahkan sempat lebih tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz, memberikan tekanan besar terhadap harga BBM dalam negeri.
Baca juga: Lakukan Aksi Earth Hour 2026, Pertamina Catat Penghematan Energi Setara 2.000 Liter BBM
Kondisi ini membuat ruang penyesuaian harga menjadi terbuka jika tren tersebut bertahan.
Saat ini harga BBM non-subsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp 12.300 per liter, Dexlite Rp 14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter.
Jika harga minyak dunia tidak kunjung turun, maka penyesuaian harga dinilai menjadi langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.
Anggawira menilai, kenaikan harga BBM non-subsidi yang masih tergolong wajar berada pada kisaran 5 hingga 10 persen.
Baca juga: BBM Aman di Tengah Gejolak Dunia: Pakar ITS Puji Manajemen Energi Nasional, Tapi Jangan Terlena
Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap melakukan penyesuaian secara bertahap guna meminimalkan dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Krisis BBM
BBM Pertamina
harga BBM
BBM
kenaikan harga BBM
kenaikan harga BBM Pertamina
kenaikan harga BBM bersubsidi
| CMNP Minta Aparat Penegak Hukum Pantau Sidang Putusan Gugatan Rp 119 T |
|
|---|
| Digeruduk Warga Kalitim, Rudy Masud Ternyata Punya Rumah Senilai Rp15 Miliar di Jakarta |
|
|---|
| Demonstran di Samarinda Cari Batang Hidung Rudy Masud yang Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar |
|
|---|
| Misa Arwah Nus Kei di Maluku Tenggara Dijaga Ketat Polisi Cegah Perang Antar Geng |
|
|---|
| Bahlil Buka Suara: Motor Isi BBM Subsidi " Adinda Mau Isi Sampai Penuh, Ya Monggo" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/BBM-Bersubsidi-sesuai-kuota-dari-Pemerintah.jpg)