Kamis, 23 April 2026

Berita Nasional

Akademisi hingga Pengusaha Tanggapi Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, Ini Kata Mereka

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global.

dok humas pertamina
SPBU PERTAMINA - Petugas SPBU Pertamina Patra Niaga sedang layani pengisian BBM. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global. 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global
  • Memanasnya konflik geopolitik itu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan utama dalam penentuan harga BBM di dalam negeri
  • Kenaikan harga tersebut bukan semata-mata keputusan internal pemerintah, melainkan respons terhadap meningkatnya risiko pasokan dan ketidakpastian global

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah yang wajar di tengah tekanan global akibat memanasnya konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. 

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Sekjen HIPMI), Anggawira.

Memanasnya konflik geopolitik itu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan utama dalam penentuan harga BBM di dalam negeri.

Anggawira mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar energi global yang saling terhubung. 

Baca juga: Ada Isu BBM Bakal Naik Jadi Rp16.500, Ini Kata Bahlil dan Pertamina

Dia menilai, Indonesia tidak memiliki kendali penuh atas fluktuasi harga minyak dunia yang saat ini mengalami tekanan signifikan.

"Kenaikan harga BBM non-subsidi dalam situasi geopolitik seperti sekarang memang wajar dan sulit dihindari," kata Anggawira dalam keterangan resminya, Selasa (32/3/2026).

"Harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, biaya pengapalan, dan premi risiko akibat konflik," lanjutnya.

Ia menjelaskan, harga minyak jenis Brent yang telah bergerak di kisaran 100 hingga 115 dollar AS per barel, bahkan sempat lebih tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz, memberikan tekanan besar terhadap harga BBM dalam negeri.

Baca juga: Lakukan Aksi Earth Hour 2026, Pertamina Catat Penghematan Energi Setara 2.000 Liter BBM

Kondisi ini membuat ruang penyesuaian harga menjadi terbuka jika tren tersebut bertahan.

Saat ini harga BBM non-subsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp 12.300 per liter, Dexlite Rp 14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter. 

Jika harga minyak dunia tidak kunjung turun, maka penyesuaian harga dinilai menjadi langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.

Anggawira menilai, kenaikan harga BBM non-subsidi yang masih tergolong wajar berada pada kisaran 5 hingga 10 persen.

Baca juga: BBM Aman di Tengah Gejolak Dunia: Pakar ITS Puji Manajemen Energi Nasional, Tapi Jangan Terlena

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap melakukan penyesuaian secara bertahap guna meminimalkan dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved