Jumat, 8 Mei 2026

Perang Timur Tengah

Iran Hancurkan Pesawat Komando Amerika Serikat di Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi

Kehilangan satu AWACS berarti kehilangan simpul komando yang tidak dapat diganti dengan harga berapa pun dan dalam jangka waktu berapa lama

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
Foto yang beredar di media sosial menunjukkan puing E-3 Sentry milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan Arab Saudi selepas serangan Iran pada 27 Maret 2026. Media Inggris, The Telegraph, dan media khusus pertahanan, Air & Space Forces, memverifikasi gambar itu. (x.com/ugc) 

Ringkasan Berita:
  • Iran menyerang Pangkalan Pangeran Sultan (27/3/2026), menghancurkan 1 Boeing E-3 Sentry dan 3 KC-135, serta melukai belasan tentara AS.
  • Laporan WSJ & Bloomberg mengonfirmasi kerusakan signifikan pada aset udara AS.
  • Sebelumnya terdapat puluhan pesawat besar di pangkalan tersebut.
  • E-3 adalah pusat komando udara vital; kehilangannya berdampak besar pada operasi militer.

 

WARTAKOTALIVE.COM--  Iran berhasil menghancuRkan pesawat Boeing E-3 Sentry dan sejumlah tanker terbang dalam serangan ke Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi pada Jumat (27/3/2026) 

Selain membuat belasan prajurit Amerika terluka, The Wall Street Journal dan Bloomberg melaporkan bahwa serangan tersebut membuat satu unit Boeing E-3 Sentry dan tiga KC-135 stratotanker AS hancur

 Pada 21 Februari, ada enam Boeing E-3 Sentry dan 13 Boeing KC-135 di Pangkalan Pangeran Sultan pada 21 Februari 2026. 

Kala itu, menurut analis citra satelit William Goodhind, AS menempatkan total 29 pesawat bersayap lebar di sana.

Dilansir dari Kompas.id, foto yang beredar di media sosial menunjukkan puing E-3 Sentry milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan Arab Saudi selepas serangan Iran pada 27 Maret 2026. Media Inggris, The Telegraph, dan media khusus pertahanan, Air & Space Forces, memverifikasi gambar itu.

 Dalam laporan Air & Space Forces, salah satu E-3 Sentry di pangkalan itu bernomor ekor 81-0005.

Nomor ekornya menunjukkan pesawat itu mulai beroperasi pada 1981.

”Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa pentingnya pesawat-pesawat pengatur pertempuran ini untuk segala hal,” kata Heather Penney, mantan pilot F-16 yang kini menjadi Direktur Kajian pada Mitchell Institute for Aerospace Studies.

E-3, kata Penney, adalah salah satu sistem peringatan dan intai di udara (AWACS). Pilot jet tempur membutuhkan AWACS untuk memberi gambaran palagan perang yang dihadapinya. ”Mereka seperti dalang, kami (pilot jet tempur) pionnya,” katanya.

 E-3 adalah otak terbang operasi udara Amerika.

Kubah radarnya yang berputar melacak ancaman dari permukaan hingga stratosfer hingga hampir 400 kilometer. E-3 mengoordinasikan setiap pesawat tempur, tanker, pengebom, dan pesawat intelijen di medan perang.

Kehilangan satu AWACS berarti kehilangan simpul komando yang tidak dapat diganti dengan harga berapa pun dan dalam jangka waktu berapa lama pun.

E-3 menggunakan badan B-707, pesawat jarak jauh dari Boeing. Selain AS, E-3 dipakai juga antara lain oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Arab Saudi, dan Chile.

Ciri khas E-3 adalah kubah radar (rotodome) di bagian atas pesawat. Dipasang dekat bagian belakang pesawat. Kecuali rotodome, tak ada yang membedakan E-3 dengan B-707 versi komersial.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved