Jumat, 8 Mei 2026

Masalah Sampah

Penguatan Teknologi RDF Diandalkan untuk Kurangi Ketergantungan Jakarta pada Bantargebang

Penguatan Teknologi RDF Diandalkan untuk Kurangi Ketergantungan Jakarta pada Bantargebang

Tayang:
DPRD DKI Jakarta
KETERGANTUNGAN JAKARTA - Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin mendorong penguatan fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF), Hal ini katanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang saat ini dinilai telah mengalami kelebihan kapasitas.(Dok. DPRD Jakarta) 

Ringkasan Berita:
  • DPRD DKI Jakarta mendorong penguatan fasilitas pengolahan sampah berbasis RDF untuk mengurangi ketergantungan pada TPST Bantargebang.
  • Jakarta menghasilkan sekitar 8.700 ton sampah per hari, sehingga dibutuhkan solusi pengelolaan jangka panjang.
  • Fasilitas RDF Rorotan ditargetkan mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari dan mengurangi beban Bantargebang sekitar 30 persen.
 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Khoirudin, mendorong penguatan fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) guna mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang dinilai sudah mengalami kelebihan kapasitas.

Menurut Khoirudin, produksi sampah harian di Jakarta yang sangat tinggi menuntut pemerintah daerah menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, aman, dan berkelanjutan.

“Jakarta memproduksi sekitar 8.700 ton sampah setiap hari. Jika tidak disiapkan solusi permanen, maka risiko seperti longsor di Bantargebang bisa terus berulang,” ujar Khoirudin, Kamis (12/3/2026).

Baca juga: Warga Bekasi Keluhkan Antrean Truk Sampah Pemprov DKJ ke TPST Bantargebang, Bikin Macet hingga Bau

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menganggarkan dana hingga triliunan rupiah untuk pembangunan fasilitas RDF guna memastikan pengelolaan sampah Jakarta berjalan lebih efektif sekaligus ramah lingkungan.

RDF Jadi Solusi Jangka Panjang Pengelolaan Sampah

Khoirudin menjelaskan bahwa fasilitas RDF merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah Jakarta yang selama ini masih bertumpu pada TPST Bantargebang.

Melalui teknologi RDF, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri. Dengan cara ini, volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.

Salah satu fasilitas yang sudah berjalan adalah RDF Rorotan, yang saat ini beroperasi secara bertahap dengan kapasitas pengolahan sekitar 700 ton sampah per hari.

Ke depan, pemerintah menargetkan kapasitas tersebut dapat meningkat hingga 2.500 ton per hari setelah seluruh sistem operasional berjalan optimal.

“Fasilitas RDF seperti di Rorotan ini merupakan bagian dari solusi jangka panjang. Jika fasilitas serupa dibangun di beberapa titik, kita bisa mengurangi beban sampah ke Bantargebang hingga sekitar 30 persen,” jelas Khoirudin.

Baca juga: Aktivis Kritik Pernyataan Pramono Anung Terhadap Pemulung Bantargebang

Peran Warga Jadi Kunci

Selain pembangunan infrastruktur pengolahan sampah, DPRD DKI juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah di ibu kota.

Khoirudin menilai keberhasilan sistem pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Saya mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai memilah sampah dari rumah,” katanya.

Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik di tingkat rumah tangga akan sangat menentukan keberhasilan sistem pengolahan di hilir.

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Jakarta diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.

 Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News dan WhatsApp
 
 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved