Senin, 18 Mei 2026

Berita Nasional

Biaya Politik Selangit, Wacana Pilkada Lewat DPRD Kian Menguat

Lembaga Survei di Indonesia Mendung Wacana Pilkada Melalui DPRD, karena Biaya Politik yang Mahal

Tayang:
istimewa
WACANA PILKADA DPRD - Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai wacana mengubah pilkada menjadi tidak langsung memang kerap dikaitkan dengan alasan efisiensi anggaran. Melalui pengubahan sistem menjadi pilkada tidak langsung, menurut Iwan akan ada banyak proses pilkada yang terpangkas dan membuat anggaran menjadi lebih efisien. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sejumlah lembaga survei di Indonesia mendukung wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak langsung melalui DPRD yang tengah ramai diperbincangkan.

Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan, menilai tingginya biaya politik dalam pilkada menjadi persoalan serius dalam demokrasi Indonesia.

Menurut dia, ongkos yang besar sejak tahap pencalonan membuat banyak kandidat sudah mengeluarkan uang banyak, tetapi belum tentu bisa maju dalam kontestasi.

“Karena perjalanan pilkada langsung sejak 2005 sampai sekarang memang menunjukkan biaya politik yang tinggi. Kalau kita buka tahap-tahapnya, ada empat tahap krusial yang mau tidak mau membuat kandidat mengeluarkan biaya besar,” kata Yusak dari keterangannya pada Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Golkar: Wacana Pilkada Harus Dikaji dalam Kerangka Demokrasi Pancasila

Yusak menjelaskan, beban besar itu sudah muncul sejak proses kandidasi di partai politik.

Kandidat harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk mendapatkan dukungan partai, apalagi jika harus berkoalisi dengan banyak partai.

“Satu partai saja, kalau standar ‘aman’ misalnya Rp300–Rp500 juta, dan ada banyak partai, itu sudah sangat besar. Tahap berikutnya adalah kampanye. Wilayahnya luas, kandidat tidak mungkin menjangkau semuanya dengan cara-cara biasa. Makanya muncul politik uang,” ujarnya.

Dalam survei yang pernah dilakukan lembaganya, Yusak memaparkan metode kampanye yang paling disukai masyarakat adalah kandidat “datang langsung”. 

Namun, waktu kampanye yang terbatas membuat kandiddat tidak bisa menjangkau semua konstituen.

Baca juga: Ongkos Politik Pilkada Mencekik, Pengamat Sebut Kandidat Bisa Bangkrut Sebelum Bertarung

Hingga akhirnya kandidat memilih cara instan dengan politik uang agar bisa meraih suara dari masyarakat yang belum ditemui.

"Belum lagi tahap pembelian suara. Di beberapa daerah, satu suara bisa sangat mahal. Kalau ditotal, biaya untuk menjadi wali kota atau bupati bisa mencapai puluhan miliar," kata dia.

Sementara itu Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai wacana mengubah pilkada menjadi tidak langsung memang kerap dikaitkan dengan alasan efisiensi anggaran.

Melalui pengubahan sistem menjadi pilkada tidak langsung, menurut Iwan akan ada banyak proses pilkada yang terpangkas dan membuat anggaran menjadi lebih efisien.

“Kalau kita bicara efisiensi, memang keunggulan pilkada melalui DPRD akan memotong banyak proses, terutama biaya pemilihan langsung,” kata Iwan.

Baca juga: Kenneth PDIP Tegas Tolak Pilkada Dipilih DPRD, Sebut Langkah Mundur Demokrasi

Dia menyebut, anggaran pilkada langsung memang besar karena melibatkan seluruh rakyat sebagai pemilih.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved