Rabu, 22 April 2026

Berita Nasional

Waspada! Pakar ITB Prediksi Longsor Susulan di Bandung Barat

Pakar Geologi memprediksi bahwa potensi longsor di Kampung Pasir Kuning Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat masih akan terjadi lagi

Editor: Desy Selviany
Istimewa/dok SAR Bandung
CITRA UDARA - Lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026). (Kantor SAR Bandung) 

WARTAKOTALIVE.COM - Pakar Geologi memprediksi bahwa potensi longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat masih akan terjadi lagi. 

Hal ini dilihat dari karakteristik tanah dan batuan di wilayah Kampung Pasir Kuning.

Diketahui lebih dari 80 warga Kampung Pasir Kuning tertimbun longsor pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. 

Sebanyak 25 jenazah berhasil dievakuasi sementara sisanya masih dinyatakan hilang diduga tertimbun material longsor

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun mengatakan salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah adanya indikasi longsoran, di hulul.

Di mana salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam). 

Akibat tertutupnya alur sungai, aliran air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu, bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu.

Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada. 

Ia mengatakan, aliran ini bukan sekadar air, melainkan aliran lumpur yang bahkan kerap mengandung bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, yang bergerak cepat dan memiliki dampak kerusakan yang lebih dahsyat.

“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” ujar Dr. Imam seperti dimuat TribunJabar pada Senin (25/1/2026).

Karakter aliran semacam ini umumnya memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa karena muatan sedimen yang sangat besar.

Oleh karena itu, fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow). 

Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa terdapat kerusakan yang parah sepanjang jalur alirannya, atau yang berada di kawasan bantaran sungai yang ada, meskipun wilayah tersebut tidak berada langsung di zona sumber longsoran.

Dr. Imam juga mengingatkan adanya potensi bahaya susulan, mengingat masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai. 

Baca juga: Tinjau Longsor di Bandung Barat, Bupati Jeje R. Ismail Sampai Terperosok di Kubangan Lumpur

Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved