Rabu, 22 April 2026

Makan Bergizi Gratis

Keracunan Terbanyak, Dinkes Sleman Usul Perkuat Pengawasan Dapur MBG

Dinkes Sleman usulkan perbaikan keamanan pangan usai kasus keracunan massal siswa, termasuk penambahan tenaga sanitarian di dapur MBG

Wartakotalive/Nuri Yatul Hikmah
DAPUR SPPG - SPPG Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (23/9/2025), mengundang wartawan untuk menyaksikan proses penyajian makan bergizi gratis. Kasus keracunan di Sleman Dinkes minta agar pengawasan diperketat di bagian dapur. 

WARTAKOTALIVE.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman memastikan keracunan massal sejumlah siswa di Mlati dan Berbah disebabkan cemaran bakteri.

Temuan ini mendorong serangkaian usulan perbaikan sistem keamanan pangan.

Dinkes Sleman menilai perlu ada penguatan pengawasan dapur penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG), salah satunya melalui penambahan tenaga ahli sanitasi.

Usulan ini diajukan ke pemerintah pusat agar dapat menjadi langkah preventif.

Kasus keracunan yang berulang menjadikan Sleman sebagai kabupaten dengan jumlah kejadian MBG terbanyak di DIY.

Karena itu, Sleman ditetapkan sebagai sampel evaluasi nasional dalam rapat koordinasi dengan pemerintah pusat.

Baca juga: Mahfud MD Ungkap Dua Cucunya Keracunan MBG, Satu Masih Dirawat RS, Sebut Program Tanpa Dasar Hukum

“Sabtu lalu kami zoom dengan pusat. Sleman dijadikan sampel karena kasus keracunannya paling banyak dibanding kabupaten/kota lain di DIY. Saat itu kami menyampaikan beberapa usulan,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Khamidah.

Usulan utama yang paling ditekankan adalah penambahan tenaga ahli kesehatan lingkungan atau sanitarian di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurutnya, tenaga yang ada saat ini, yakni ahli gizi dan akuntan, belum cukup untuk menjamin keamanan pangan dari sisi kebersihan lingkungan.

"Kan petugasnya baru ada ahli gizi sama akuntan. Kami mengusulkan tambah satu lagi, sanitarian," ungkapnya.

Khamidah menjelaskan, peran sanitarian sangat krusial untuk melakukan tindakan preventif. Mereka bertugas memeriksa seluruh aspek kebersihan dan kelayakan dapur sebelum beroperasi.

"Sebelum dapur itu berjalan itu air segala macam itu dicek laboratorium. Kesiapan dapurnya, lingkunganya di situ, itu harus dicek sama sanitarianya itu. Minimal airnya secara periodik dicek laboratorium," urainya.

Sejalan dengan usulan tersebut, Dinkes juga merekomendasikan agar kualitas air di setiap dapur wajib diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memasak.

"Sebelum dapur beroperasi kami juga mengusulkan sebaiknya air diperiksa dulu. Supaya kalau misalnya dicroscek oh ternyata airnya baik, kalau misalnya sudah dipakai ini kan memakai air yang sudah diperiksakan," ucapnya.

Terakhir, Dinkes Sleman kembali menyarankan agar seluruh SPPG segera memproses Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) untuk memiliki standar yang jelas dan terukur.

Baca juga: Cegah Keracunan MBG, Dapur SPPG Segi Antara Depok Terapkan Prosedur Ketat SDM dan Bahan Baku 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved