Kamis, 23 April 2026

Makan Bergizi Gratis

Keracunan Massal Jadi Alarm, Pakar Minta Revitalisasi Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis dinilai tetap penting meski tercoreng kasus keracunan, pakar minta tata kelola diperbaiki demi cegah stunting.

|
warta kota/nuril yatul
SANTAP MBG - Siswa siswi SLBN 5 di Palmerah, Jakarta Barat, sedang menyantap makan bergizi gratis (MBG), Senin (14/7/2025). Pakar ingatkan meski banyak kasus keracunan program tetap harus diteruskan 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kasus keracunan massal sempat mencoreng Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pakar menegaskan program ini tetap mendesak dilanjutkan demi mencegah stunting dan malnutrisi.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tetap mendesak untuk dilanjutkan meski sempat tercoreng kasus keracunan massal di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat pada Senin (22/9/2025) dan Rabu (24/9/2025).

Pakar kebijakan publik dari Universitas Pasundan Bandung, Eki Baehaki menegaskan, urgensi program ini tidak boleh diragukan.

Menurutnya, Indonesia tengah menghadapi persoalan serius seperti stunting, anemia, hingga malnutrisi kronis.

Baca juga: Menu Sayur MBG Dikeluhkan Sering Basi, Siswa Tangerang Khawatir Keracunan

"Sepiring makan bergizi gratis di sekolah adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan, namun niat mulia bisa runtuh oleh tata kelola yang rapuh. Program MBG harus terus dilanjutkan tetapi dengan perbaikan tata kelola yang radikal," kata Eki dari keterangannya pada Minggu (28/9/2025).

Eki mengingatkan, kasus keracunan yang berulang adalah 'lampu merah' atau peringatan keras bagi pelaksanaan program.

Prinsip keamanan pangan seperti menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dan matang, memasak dengan benar, menyimpan pada suhu aman, hingga memastikan bahan baku bersih, belum berjalan konsisten.

"Program MBG adalah investasi besar tetapi tanpa tata kelola yang disiplin, investasi itu justru bisa menghasilkan kerugian kesehatan, hilangnya kepercayaan publik, dan kegagalan politik. Walau bagaimanapun agar Program MBG tetap jalan, maka harus ada jalan selamat bagi revitalisasi program itu sendiri," ungkapnya.

Baca juga: Ribuan Siswa Keracunan MBG, Islah Bahrawi Anggap Ada Keanehan, Endus Potensi Kesengajaan

Pelajar menerima manfaatnya

Sementara itu, suara positif terhadap keberlangsungan MBG datang dari pelajar penerima manfaat.

Farid, siswa kelas XI jurusan teknik elektro SMK Negeri 4 Padalarang, juga mengaku senang dengan adanya MBG di sekolahnya.

"Sudah, makanannya enak dan kami habiskan. Selain untuk menambah gizi, uang jajan dari rumah juga bisa kami sisihkan untuk ditabung," katanya.

Sedangkan para orang tua, berharap program ini tetap dilanjutkan dengan pengawasan ketat. Ibu Siti, orang tua murid kelas 4 SD Negeri 2 Cimareme, mengaku sempat khawatir usai mendengar kabar keracunan.

Namun, dia merasa yakin dengan mekanisme pengecekan yang dilakukan guru.

"Kalau dengar dari berita ya khawatir. Tapi guru-guru di sini selalu cek makanan itu satu-satu. Jadi sebelum dikasih ke murid, dicoba dulu sama gurunya. Kalau ada yang basi, ya nggak dikasih ke murid. Itu yang membuat saya yakin makanan untuk anak saya aman," jelasnya. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved