Maulid Nabi

Mengenal Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hukumnya Bidah

Pemerintah Indonesia menetapkan Maulid Nabi shallahu alaihi wassalam jatuh pada Jumat (5/11/2025), apa keistimewannya dan bolehkan dirayakan ? 

istimewa
MAULID NABI - Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad, mengapa tidak boleh dirayakan ? 

Penulis : Nashir Moh. Al Hanin

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia menetapkan Maulid Nabi shallahu alaihi wassalam jatuh pada Jumat (5/11/2025), apa keistimewannnya dan bolehkan dirayakan ? 

Para ulama sunnah melarang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW alias hari lahirnya. Hukumnya bidah.

Bid'ah atau bidaah dalam agama Islam adalah perbuatan, keyakinan, atau inovasi keagamaan yang baru diciptakan setelah masa Nabi Muhammad SAW dan tidak ada contoh atau dalil yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT

Seluruh ulama sepakat bahwa maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa Nabi shallallahu `alaihi wasallam hidup dan tidak juga pada masa pemerintahan khulafaurrasyidin.

Lalu kapan dimulainya peringatan maulid Nabi dan siapa yang pertama kali mengadakannya?

Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.

Dynasti Fathimiyyun mulai menguasai mesir pada tahun 362 H dengan raja pertamanya Al Muiz Lidinillah, di awal tahun menaklukkan Mesir dia membuat enam perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir ( maulid ) Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa.

Kemudian pada tahun 487 H pada masa pemerintahan Al Afdhal peringatan enam hari lahir tersebut dihapuskan dan tidak diperingati, raja ini meninggal pada tahun 515 H.

Baca juga: WFH dan Libur Panjang Maulid Nabi, KAI Catat 138.659 Penumpang Keluar Jakarta

Pada tahun 515 H dilantik Raja yang baru bergelar Al Amir Liahkamillah, dia menghidupkan kembali peringatan enam maulid tersebut, begitulah seterusnya peringatan maulid Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang jatuh pada bulan Rabiul awal diperingati dari tahun ke tahun hingga zaman sekarang dan meluas hampir ke seluruh dunia.

Hakikat Dynasti Fathimiyyun

Abu Syamah (ahli hadist dan tarikh wafat th 665 H) menjelaskan dalam bukunya “Raudhatain” bahwa raja pertama dinasti ini berasal dari Maroko dia bernama Said, setelah menaklukkan Mesir dia mengganti namanya menjadi Ubaidillah serta mengaku berasal dari keturunan Ali dan Fatimah dan pada akhirnya dia memakai gelar Al Mahdi.

Akan tetapi para ahli nasab menjelaskan bahwa sesungguhnya dia berasal dari keturunan Al Qaddah beragama Majusi, pendapat lain menjelaskan bahwa dia adalah anak seorang Yahudi yang bekerja sebagai pandai besi di Syam.

Dinasti ini menganut paham Syiah Bathiniyah; diantara kesesatannya adalah bahwa para pengikutnya meyakini Al Mahdi sebagai tuhan pencipta dan pemberi rezki, setelah Al Mahdi mati anaknya yang menjadi raja selalu mengumandangkan kutukan terhadap Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di pasar-pasar.

Kesesatan dinasti ini tidak dibiarkan begitu saja, maka banyak ulama yang hidup di masa itu menjelaskan kepada umat akan diantaranya Al Ghazali menulis buku yang berjudul “Fadhaih bathiniyyah (borok aqidah Bathiniyyah)” dalam buku tersebut dalam bab ke delapan beliau menghukumi penganutnya telah kafir , murtad  serta keluar dari agama islam.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved