Sabtu, 25 April 2026

Berita Nasional

Dunia Menuju Multipolar, Indonesia Diminta Kurangi Ketergantungan Amerika Serikat

Ekonom nilai pergeseran global jadi peluang Indonesia memperkuat kemandirian dan kurangi ketergantungan pada AS.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota/Ramadhan L Q
EKONOMI - Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni menyebut arah global kini bergerak menuju sistem multipolar, di mana kekuatan tidak lagi terpusat pada satu negara dominan. 

Ringkasan Berita:
  • Farouk Abdullah Alwyni menilai perubahan geopolitik menuju sistem multipolar menjadi peluang bagi Indonesia memperkuat kedaulatan ekonomi.
  • Sejumlah pemimpin dunia seperti Emmanuel Macron dan Lee Hsien Loong juga mendorong pengurangan ketergantungan pada AS. 
  • Pemerintah didorong mengevaluasi kerja sama dengan AS dan memperluas kemitraan global.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perubahan lanskap geoekonomi dan geopolitik global kian nyata seiring meningkatnya dorongan sejumlah pemimpin dunia untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat

Kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk menata ulang strategi hubungan ekonomi-politiknya secara lebih mandiri dan berdaulat.

Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, mengatakan dunia kini bergerak menuju sistem multipolar, di mana kekuatan tidak lagi terpusat pada satu negara. 

"Momentum ini perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara berdaulat,” ujarnya, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Sejumlah pemimpin dunia telah menyuarakan pentingnya kemandirian tersebut. 

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mendorong negara Asia dan Eropa agar tidak bergantung pada kebijakan AS. 

Baca juga: Pertama Kalinya, Jet Tempur AU Kerajaan Inggris Tembak Jatuh Drone Rusia di Perbatasan NATO

Sementara itu, di Asia Tenggara, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengingatkan skenario “the world minus one” atau dunia tanpa dominasi satu kekuatan utama.

 

Ada pula Menteri Perdagangan Malaysia, Tengku Zafrul Aziz, juga membatalkan kesepakatan tarif tertentu dengan AS di tengah dinamika hukum di negara tersebut.

 

Farouk menilai negara-negara Eropa dan Kanada mulai mengambil jarak strategis dari AS, sementara poros kerja sama baru antara China, Rusia, dan Iran semakin menguat di berbagai sektor.

 

Ia merekomendasikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi hubungan ekonomi dan perdagangan dengan AS, mengurangi ketergantungan struktural, serta memperkuat kemitraan alternatif, termasuk dengan negara non-Barat.

 

Selain itu, Indonesia didorong meninjau ulang kesepakatan yang merugikan dan memperkuat politik luar negeri bebas aktif. 

 

Menurut Farouk, langkah tersebut merupakan upaya menjaga kedaulatan nasional, bukan bentuk konfrontasi.

 

“Perubahan global harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara mandiri dan berdaulat,” katanya. (m31)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved