Kamis, 23 April 2026

Penyiraman Air Keras

Mirip Novel Baswedan, Usman Hamid Duga Ada Operasi Sistematis Dalam Kasus Andrie Yunus

Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dinilai terencana dan mencerminkan ancaman serius bagi ruang demokrasi.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
PENYIRAMAN AIR KERAS - Aktivis HAM, Andrie Yunus. Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai serangan tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan telah direncanakan secara matang. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus memicu kekhawatiran.
  • Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai serangan tersebut terencana, dengan indikasi pengintaian dan pola mirip kasus sebelumnya.
  • Ia menegaskan pentingnya mengungkap dalang di balik aksi, bukan hanya pelaku lapangan.
  • Peristiwa ini juga dinilai mencerminkan menyempitnya ruang demokrasi akibat meningkatnya tekanan terhadap kritik.

WARTAKOTALIVE.COM, KRAMAT JATI - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus memicu kekhawatiran serius di tengah situasi politik yang dinilai kian tidak menentu di Indonesia.

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai serangan tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan telah direncanakan secara matang.

Usman menegaskan, pola serangan terhadap Andrie memiliki kemiripan dengan kasus kekerasan terhadap aktivis sebelumnya, termasuk yang menimpa Novel Baswedan.

Ia menyebut, peristiwa ini menunjukkan masih adanya ruang yang memungkinkan kekerasan terhadap suara kritis kembali terjadi.

“Ini bukan peristiwa spontan. Ada perencanaan, ada pengintaian, bahkan kemungkinan melibatkan kemampuan operasional tertentu,” tegas Usman, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Viral Pemalakan Tukang Bakso di Tanah Abang Jakpus, Tiga Pelaku Ditangkap

Menurutnya, indikasi tersebut terlihat dari fakta bahwa pelaku tidak mengambil barang milik korban, melainkan langsung menyerang lalu melarikan diri.

Bahkan, polisi mengungkap korban diduga telah dibuntuti sebelum kejadian penyiraman terjadi.

Usman juga menyoroti meningkatnya narasi negatif terhadap aktivis, akademisi, dan kelompok kritis yang kerap dilabeli sebagai “antek asing” atau tidak patriotik.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut kritik sebagai sesuatu yang perlu 'ditertibkan'.

“Kalau kritik dianggap ancaman, maka ruang demokrasi menyempit. Ini berbahaya,” ujarnya.

Usman menduga ada operasi yang sistematis dalam serangan terhadap aktivis Andrie Yunus.

“Ini butuh keberanian, perencanaan, dan kemungkinan akses pada kemampuan intelijen. Tidak mungkin sekadar dendam pribadi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam banyak kasus kekerasan terhadap aktivis, para pelaku lapangan kerap bukan aktor utama.

Karena itu, Usman menekankan pentingnya mengungkap dalang intelektual di balik aksi tersebut, bukan hanya menangkap eksekutor.

“Kalau hanya pelaku lapangan yang dihukum, kejahatan seperti ini akan terus berulang. Kebebasan itu seperti air. Dibendung sekuat apa pun, dia akan mencari jalan,” imbuhnya.

Novel Baswedan Desak Pembentukan TGPF

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved