Jumat, 1 Mei 2026

Berita Nasional

Respon Wamen Stella Sentil Alumni LPDP : Beasiswa Negara itu Utang Budi Loh!

Stella menegaskan, setiap beasiswa dari negara bukan sekadar fasilitas pendidikan, melainkan bentuk kepercayaan publik

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Kompas.com/Roderick Adrian
RESPON STELLA SOAL LPDP -- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie angkat bicara terkait polemik yang menyeret seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pernyataan “cukup saya WNI, anak jangan” yang disampaikan seorang penerima beasiswa dan viral di media sosial memantik perdebatan luas tentang makna nasionalisme, tanggung jawab moral, dan relasi antara negara dengan warganya. 

WARTAKOTALIVE.COM, Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie angkat bicara terkait polemik yang menyeret seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Pernyataan “cukup saya WNI, anak jangan” yang disampaikan seorang penerima beasiswa dan viral di media sosial memantik perdebatan luas tentang makna nasionalisme, tanggung jawab moral, dan relasi antara negara dengan warganya.

Stella menegaskan, setiap beasiswa yang bersumber dari negara bukan sekadar fasilitas pendidikan, melainkan bentuk kepercayaan publik yang mengandung dimensi moral.

“Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi,” ujar Stella saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).

Menurut dia, polemik yang mencuat belakangan ini tidak semata soal pilihan kewarganegaraan, melainkan cerminan persoalan yang lebih mendasar dalam pendidikan karakter.

Ia menilai ada kegagalan dalam memaknai beasiswa sebagai amanah.

“Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya,” katanya.

Stella mengingatkan, memperketat aturan dan menambah lapisan pembatasan terhadap penerima beasiswa bukanlah solusi tunggal.

Regulasi yang terlalu represif, menurut dia, justru dapat memunculkan sikap sinis dan mengikis rasa syukur.

Penerima beasiswa bisa saja terdorong mencari celah untuk menghindari kewajiban, alih-alih terdorong untuk berkontribusi secara tulus.

 “Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang tetap menunjukkan dedikasi kuat bagi Tanah Air, meski berkarier di luar negeri.

Nama-nama seperti Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, dan Prof. Haryadi di Amerika Serikat disebut sebagai figur yang tetap membuka jejaring, kolaborasi riset, serta peluang bagi sesama anak bangsa.

“Contoh-contoh baik ini perlu disorot. Memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” kata Stella.

Lebih jauh, Stella juga membagikan pandangannya tentang bagaimana menumbuhkan rasa patriotisme, terutama bagi penerima beasiswa negara dan keluarga diaspora.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved