Rabu, 17 Juni 2026

Berita Nasional

Gus Nadir Kecewa, NU yang Dicintainya Pecah: Roda Jam’iyyah Mati

PBNU memanas, Gus Nadir menilai konflik ini membuat organisasi kehilangan arah, AD/ART tak dijalankan, dan semangat khittah hanya menjadi formalitas.

Tayang:
Editor: Dwi Rizki
Istimewa
POLEMIK PBNU - Kolase Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Akademisi dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir). Dirinya menilai polemik yang terjadi dalam internal PBNU menjadi bukti matinya Roda Jam’iyyah NU. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Dewan Syura PBNU, Miftachul Akhyar, mendesak Ketua PBNU Gus Yahya mundur.
  • Penyebab: narasumber Zionis di Akademi NU & dugaan pelanggaran tata kelola keuangan. 
  • Desakan pemakzulan resmi ditandatangani 20 Nov 2025. 
  • Gus Nadir menilai konflik ini bikin PBNU kehilangan arah, roda organisasi mati. 
  • AD/ART tak dijalankan, slogan khittah dan khidmat hanya formalitas.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Polemik yang terjadi dalam internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disesalkan banyak pihak.

Polemik terjadi setelah Ketua Dewan Syura PBNU sekaligus Rais 'Aam PBNU, Miftachul Akhyar mendesak Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk mundur. 

Gus Yahya didesak mundur dari jabatan Ketua PBNU karena dua hal.

Pertama, terkait dengan narasumber zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU.

Kedua, terkait tata kelola keuangan di PBNU yang mengindikasikan pelanggaran hukum dan melanggar Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU.

Atas pelanggaran tersebut, Miftachul Akhyar menandatangani risalah rapat harian pada 20 November 2025.

Isinya, mendesak Gus Yahya mundur sesuai dengan Pasal 8 huruf a Peraturan NU Nomor 13 tahun 2025 tentang pemberhentian fungsionaris, pergantian antar waktu, dan pelimpahan fungsi jabatan.

Desakan pemakzulan Gus Yahya tersebut ditanggapi Akademisi dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Nadirsyah Hosen.

Lewat twitter atauxpribadinya @na_dirs pada Minggu (23/11/2025), pria yang akrab disapa Gus Nadir itu menilai konflik yang terjadi menjadi bukti matinya Roda Jam’iyyah NU.

"Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am," tulis gus Nadir.

"Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum). Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum," jelasnya. 

"Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen," bebernya. 

Polemik yang terjadi menurutnya bukan lagi soal organisasi yang macet. 

Hal ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. 

Masing-masing pihak katanya berjalan sendiri. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved