Berita Nasional
Gus Nadir Kecewa, NU yang Dicintainya Pecah: Roda Jam’iyyah Mati
PBNU memanas, Gus Nadir menilai konflik ini membuat organisasi kehilangan arah, AD/ART tak dijalankan, dan semangat khittah hanya menjadi formalitas.
Ringkasan Berita:
- Ketua Dewan Syura PBNU, Miftachul Akhyar, mendesak Ketua PBNU Gus Yahya mundur.
- Penyebab: narasumber Zionis di Akademi NU & dugaan pelanggaran tata kelola keuangan.
- Desakan pemakzulan resmi ditandatangani 20 Nov 2025.
- Gus Nadir menilai konflik ini bikin PBNU kehilangan arah, roda organisasi mati.
- AD/ART tak dijalankan, slogan khittah dan khidmat hanya formalitas.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Polemik yang terjadi dalam internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disesalkan banyak pihak.
Polemik terjadi setelah Ketua Dewan Syura PBNU sekaligus Rais 'Aam PBNU, Miftachul Akhyar mendesak Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk mundur.
Gus Yahya didesak mundur dari jabatan Ketua PBNU karena dua hal.
Pertama, terkait dengan narasumber zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU.
Kedua, terkait tata kelola keuangan di PBNU yang mengindikasikan pelanggaran hukum dan melanggar Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU.
Atas pelanggaran tersebut, Miftachul Akhyar menandatangani risalah rapat harian pada 20 November 2025.
Isinya, mendesak Gus Yahya mundur sesuai dengan Pasal 8 huruf a Peraturan NU Nomor 13 tahun 2025 tentang pemberhentian fungsionaris, pergantian antar waktu, dan pelimpahan fungsi jabatan.
Desakan pemakzulan Gus Yahya tersebut ditanggapi Akademisi dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Nadirsyah Hosen.
Lewat twitter atauxpribadinya @na_dirs pada Minggu (23/11/2025), pria yang akrab disapa Gus Nadir itu menilai konflik yang terjadi menjadi bukti matinya Roda Jam’iyyah NU.
"Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am," tulis gus Nadir.
"Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum). Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum," jelasnya.
"Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen," bebernya.
Polemik yang terjadi menurutnya bukan lagi soal organisasi yang macet.
Hal ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan.
Masing-masing pihak katanya berjalan sendiri.
| Budiman Sudjatmiko Bantah Usir Mahasiswa, Ungkap Kronologi Diskusi di Semarang |
|
|---|
| FLiFE Indonesia Berikan Diskon 50 Persen di Jakarta Fair 2026 |
|
|---|
| Pertama di Era Prabowo: Presiden Jerman ke Jakarta, Bawa Misi Ekonomi dan Simbol Toleransi |
|
|---|
| Respon Bagir Manan, Abraham Samad hingga Din Syamsuddin Soal Eksekusi Hotel Sultan |
|
|---|
| Forum Dialog Ekonomi Restoratif 2026: Angkat Perempuan Jadi Penggerak Utama Ekonomi Restoratif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Ketua-PBNU-Yahya-Cholil-Staquf-Gus-Yahya-dan-Prof-Nadirsyah-Hosen-Gus-Nadir.jpg)