Jumat, 8 Mei 2026

Demo di DPR

Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Pakar Psifor: Tak Terjadi Jika Petinggi Negara Amanah

Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Pakar Psifor: Tak Terjadi Jika Petinggi Negara Amanah

Tayang:
tangkapan layar
OJOL DILINDAS BRIMOB - Seorang driver atau pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (20) meninggal dunia setelah ditabrak dan dilindas oleh mobil rantis Brimob Polri di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam, saat aksi demo. Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan jelas ini peristiwa yang sangat menyedihkan dan tidak akan terjadi jika para petinggi negara amanah. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Seorang driver atau pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (20) meninggal dunia setelah ditabrak dan dilindas oleh mobil rantis Brimob Polri di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam.

Peristiwa itu terjadi saat warga sekitar terutama kaum ibu memprotes anggota Brimob yang menembakkan gas air mata ke area perkampungan saat membubarkan aksi demo mahasiswa yang sebelumnya di gelar di DPR.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sebagai pelanggan setia ojek online, jelas ini peristiwa yang sangat menyedihkan.

Baca juga: Dipicu Kematian Ojol Affan Kurniawan, Demo di Mako Brimob Kwitang Jakarta Pusat Berakhir Rusuh

"Begitu pula, membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, pilu hati saya," kata Reza kepada WartaKotalive.com, Jumat (29/8/2025).

Reza memberi sejumlah catatan atas peristiwa ini. Yakni:

1. Riset menemukan, polisi juga bisa merasa kecemasan tinggi. Apalagi dalam situasi kerumunan yang kacau, ketegangan sangat mungkin meninggi.

2. Rantis bergerak dengan kecepatan yang masih bisa pengemudi kendalikan. Tapi tabrakan tak terhindarkan. Mengapa? 

3. Dalam situasi seramai itu, pengemudi tidak bisa berfokus semata-mata lurus ke depan. Pergerakan massa dalam jumlah besar secara acak menyebar, membuat pengemudi harus menyapu pandangannya ke banyak titik untuk menghindari tabrakan. 

4. Menjelang momen tabrakan, demonstran berjaket hitam (lingkaran merah) secara sekaligus berada pada jarak terdekat dengan demonstran berjaket hijau (lingkaran biru) dan rantis. Kedua demonstran itu bergerak dengan posisi tubuh, pola, dan kecepatan yang berbeda satu sama lain. 

5. Secara bertahap, rantis terlebih dahulu harus menghindar dari demonstran berjaket hitam. Dalam tempo sangat singkat, pengemudi hanya punya satu kemungkinan:  spontan ke kiri. Adaptasi pengemudi sudah tepat. 

6. Namun pada tahap berikutnya, tabrakan dengan demonstran berjaket hijau tidak terhindarkan. Rantis bergerak konstan (sama), sementara demonstran berbaju hijau tidak sama (posisi tubuh, pola, dan kecepatan) dengan demonstran berbaju hitam. Adaptasi pengemudi meleset, padahal adaptasi itu berhasil sesaat sebelumnya. 

Baca juga: Mobil Dibakar Massa Jumat Dini Hari di Jalan Otista, Kapolres Jaktim Sebut Sudah Dikendalikan

7. Rantis berhenti sesaat setelah terjadi tabrakan. Ini mengindikasikan sesaat setelah terjadinya benturan, pengemudi masih cukup mampu mengendalikan diri, baik kendali oleh diri sendiri maupun oleh penumpang rantis.

8. Rantis kemudian bergerak. Ini manifestasi flight sebagai akibat kepanikan.

"Jadi, dua kondisi psikis pengemudi dalam situasi 1-7: fear dan miskalkulasi pada saat mengantisipasi dua demonstran yang berbeda (tidak konstan)," kata Reza.

Menurut Reza dikaitkan dengan mens rea (level kesadaran)--bukan motif (jenis)--pengemudi, maka perlu dibedakan dua momen dalam peristiwa ini.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved