Selasa, 2 Juni 2026

Kesehatan

Deteksi Dini Bisa Selamatkan Nyawa, PERKI Ajak Masyarakat Peduli Jantung

PERKI ajak masyarakat cegah penyakit jantung di Hari Jantung Sedunia 2025, tekankan deteksi dini, pola hidup sehat, dan layanan darurat jantung

Tayang:
Wartakotalive/Gilbert Sem Sandro
HARI JANTUNG SEDUNIA - Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi (kedua dari kiri) dan Ketua PERKI dr. Ade Meidian Ambari (kedua dari kanan) saat diwawancarai awak media di Eastvara BSD, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (28/9) 

WARTAKOALIVE.COM, TANGERANG - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) memperingati Hari Jantung Sedunia 2025 di Eastvara BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (28/9/2025).

Dalam kegiatan ini, PERKI menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit jantung yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.

Ketua PERKI dr. Ade Meidian Ambari menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh bahaya penyakit jantung.

Padahal, berdasarkan data World Heart Federation (WHF), penyakit kardiovaskular atau CVD masih menjadi penyebab utama kematian di dunia.

“Pada tahun 2021, jumlah kematian akibat penyakit jantung tercatat mencapai 20,5 juta orang, meningkat 60 persen dibandingkan tahun 1990,” ungkap Ade.

Baca juga: Perluas Wawasan Dokter Tangani Penyakit Jantung, Heartology Cardiovascular Hospital Gelar CARES 2025

Ia menegaskan, pencegahan dini menjadi kunci untuk menekan risiko.

Upaya ini dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor pemicu seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, dan kurang aktivitas fisik.

Lalu terdapat pelatihan CPR (Resusitasi Jantung-Paru) di masyarakat agar lebih banyak nyawa terselamatkan jika terjadi henti jantung mendadak, serta memastikan layanan STEMI atau serangan jantung akut terdapat di seluruh rumah sakit Indonesia.

"Untuk mencegah terjadinya komplikasi bisa menjalani Medical Check-up (MCU) secara rutin dan jangan abaikan gejala nyeri dada, sesak napas atau kaki bengkak," ungkapnya.

"PERKI mengajak masyarakat untuk deteksi dini, mengendalikan faktor risiko, dan menjaga pola hidup sehat," sambungnya.

Baca juga: Tiap Tahun, RS Institut Jantung Negara Kuala Lumpur Terima 2000 Pasien Jantung dari Indonesia

Lebih lanjut Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, penderita penyakit jantung di Indonesia mencapai 1,5 persen dari jumlah penduduk. 

Terlebih Kementerian Kesehatan telah mengumumkan tiga provinsi dengan paparan penyakit jantung tertinggi di Indonesia berada di Kalimantan Utara, Yogyakarta dan Gorontalo.

"Jika dilihat berdasarkan jenisnya, sebagian besar atau sebanyak 50 persen merupakan penyakit jantung koroner, sedangkan penyebabnya antara lain faktor keturunan, gaya hidup dan lingkungan," kata dia.

Menurut dia, klaim pelayanan penyakit jantung tercatat sebagai beban biaya terbesar di Indonesia.

Pada anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2024, dana sebesar Rp19,25 triliun telah digelontorkan untuk lebih dari 22,5 juta kasus penyakit jantung.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved