Rabu, 8 April 2026

Trend Advertising 2019, pemasang iklan cenderung 'wait and see'

Kondisi akhir tahun 2018 bisa menjadi gambaran. Ketika situasi ekonomi kurang baik bagi industri, belanja iklan terkena dampaknya.

Penulis: | Editor: Ichwan Chasani
ist
Maya Watono, Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia (kedua kiri); Antonius Pribadi, Managing Director DSP Media (ketiga kiri); dan Aloysia Dian, General Manager Vizeum (kanan) dalam media gathering di Jakarta, Kamis (13/12). 

Tahun  2019 mendatang masih menjadi pertimbangan bagi para pemasang iklan untuk tetap beriklan  atau cenderung wait and see. Apalagi tahun 2019 adalah tahun politik, yaitu periode kampanye, pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden.

Hal itu diungkapkan Maya Watono, CEO Dwi Sapta Group (A Dentsu Aegis Network),  di Jakarta, Kamis (13/12). Dwi Sapta Group merupakan salah satu perusahaan agensi periklanan lokal terbesar di Indonesia.

Maya mengatakan saat ini kondisi pasar memang sedang melambat. Apalagi jika berbicara mengenai disrupsi, terutama dari sisi digital, sangat penting bagi industri periklanan untuk bisa menyikapi tantangan yang sedang terjadi.

“Karena disrupsi adalah global trend, yang lalu menjadi ASEAN trend, dan sekarang menjadi Indonesian trend. Jadi tidak bisa dipungkiri, adanya fenomena ini, business model pun sudah berubah, yang tadinya konvensional, sekarang semuanya sudah mengarah ke digital,” ujarnya.

Maya menambahkan, kondisi akhir tahun 2018 bisa menjadi gambaran. Ketika situasi ekonomi kurang baik bagi industri, yang ditandai meroketnya nilai dollar Amerika belanja iklan terkena dampaknya.

“Belanja iklan 2018, menurut Nielsen sampai dengan Oktober 2018, hanya bertumbuh 4 persen,” jelas putri pendiri Dwi Sapta, Adjie Watono ini.

Menurut Maya, iklan televisi dan digital masih akan dominan, menggeser jenis iklan konvensional lainnya. Iklan televisi cenderung dominan karena tingkat penetrasi dan area cakupannya yang lebih besar dibanding jenis iklan lainnya.

Sementara iklan digital belum mampu menggeser iklan televisi karena infrastruktur dan teknologi informasi belum merata persebarannya.

CEO Termuda

Terhitung Januari 2019, Maya Watono bakal dipercaya menjadi Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia, sebagai salah satu Group Advertising agency besar di Indonesia. Di usia 36 tahun, Maya Watono menjadi wanita pertama dan termuda yang berhasil menempati posisi puncak kepemimpinan di DAN Indonesia.

Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia tersebar dalam 15 unit brand, yang terdiri dari Brand Agencies (DwiSapta, Dentsu Indonesia, Dentsu One, Dentsu MainAd), Media agencies (DSP MEDIA, Dentsu X, Carat, Vizeum, Posterscope), Digital Agencies (Dentsu X Digital, Isobar, ipVK, iNexus), Brand Activation Agencies (Bee Activator), & Content Agency (Dentsu X Sport & Entertainment).

Hingga kini DAN Indonesia memiliki hampir 1.000 orang karyawan. Dentsu Aegis Network berkantor pusat di London dan kantor holding Dentsu Inc. di Tokyo, beroperasi di 145 negara di seluruh dunia dengan sekitar 300 perusahaan di bawahnya. 

“Bertanggung jawab terhadap 1.000 orang karyawan DAN Indonesia, ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin bila skala yang dipimpin cukup besar. Apa yang kami jual bukan berupa produk, melainkan service, idea, dan expertise,” tegas Maya.

Sebelum menjadi Country CEO DAN Indonesia, Maya Watono merupakan CEO Dwi Sapta Group (A Dentsu Aegis Network) sejak tahun 2017.  Ia menggantikan posisi ayahnya, Adjie Watono, sang pendiri Dwi Sapta Group.

Kenaikan posisi Maya berbarengan dengan merger perusahaan keluarganya, DwiSapta, dengan salah satu agensi periklanan terbesar di dunia, Dentsu Aegis Network (DAN).

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved