Transportasi
Ini Penyebab Proyek Kereta Cepat Bekasi Molor
Proyek pembangunan transportasi massal jenis Aeromovel (kereta cepat) di Kota Bekasi dipastikan molor.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA, BEKASI - Proyek pembangunan transportasi massal jenis Aeromovel (kereta cepat) di Kota Bekasi dipastikan molor. Pasalnya, proyek yang sedianya dibangun awal Februari 2016 ini, justru masih dikaji oleh pihak konsultan.
"Saat ini sedang dilakukan kajian kelayakan dan perencanaan teknis, serta penentuan fix trace (lokasi tetapnya)," ujar Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi kepada Warta Kota, Senin (8/2/2016) siang.
Pemerintah Daerah awalnya optimis, proyek yang dibangun melalui konsorsium tiga kontraktor, yakni PT PPP Indonesia, PT Cakar Bumi Intergritas dan PT Intiadi Dwi Mitra Sejati, ini bakal dibangun sesuai jadwal.
Rutenya, dari daerah Kemang Pratama, Kecamatan Rawalumbu sampai Harapan Indah Bekasi, Kecamatan Medansatria dengan jarak 12 kilometer.
Adapun lintasannya dibuat melayang di atas dengan ketinggian lima meter dengan jarak masing-masing tiang pancang sejauh 25 meter.
Keberadaan transportasi ini diklaim bisa memangkas waktu perjalanan dari Kemang Pratama-Harapan Indah atau arah sebaliknya dari 45 menit menjadi 30 menit.
Nilai investasi kereta yang mampu mengangkut 300 penumpang untuk sekali jalan ini disebut-sebut mencapai Rp 2 triliun.
Uang sebanyak itu, dibiayai oleh investor swasta bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bekasi.
Keseriusan Pemda Bekasi terhadap transportasi ini kemudian dituang dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara pihak yang bersangkutan pada Rabu, 25 Maret 2015 lalu.
Rahmat menyatakan, sambil menunggu hasil kajian itu, pihak ketiga dan pemda sedang menyiapkan berkas untuk menyusun perjanjian kerjasama (PKS) dalam proyek tersebut.
Meski demikian, Rahmat belum bisa memastikan jadwal pengesahan PKS antara pihaknya dengan kontraktor tersebut.
"Terakhir 28 Januari kemarin ada pembahasan teknis jalur lintasannya. Tapi kajiannya belum bisa disampaikan, karena belum selesai," kata Rahmat.
Menurut Rahmat, keberadaan transportasi berbasis tenaga angin (blower) ini, memang sudah mendesak untuk warga Kota Bekasi. Sebab setiap hari kemacetan terjadi di sejumlah ruas protokol, misalnya di Jalan Raya Soedirman, Jalan Raya Sultang Agung, Jalan Raya Juanda dan sebagainya.
Kemacetan ini, diprediksi makin parah seiring pertumbuhan kendaraan yang ada di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
"Transportasi ini merupakan salah satu solusi guna mengantisipasi kemacetan arus lalu lintas 5-10 tahun ke depan," kata Rahmat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160125-joko-widodo-jokowi-kereta-cepat_20160125_103032.jpg)