Bulu Mata Palsu dari Purbalingga Ini Rambah AS
MELEPAS status sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta, Yohanes Ferry dan Audrei Soekoco terjun ke usaha pembuatan bulu mata palsu. Mereka gemas melihat produksi asing merajalela di kotanya.
Palmerah, Wartakotalive.com
MELEPAS status sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta, Yohanes Ferry dan Audrei Soekoco terjun ke usaha pembuatan bulu mata palsu. Mereka gemas melihat produksi asing merajalela di kotanya.
Kini, mereka menjadi produsen bulu mata palsu terbesar di Purbalingga, Jawa Tengah, dan produk mereka sudah ada di luar negeri. Tahun 2012 ini, mereka mampu memproduksi 24 juta pasang bulu mata palsu.
Sejak awal, Ferry dan Audrei memang mengincar pasar ekspor dan tidak membatasi diri pada bulu mata saja. Mereka hanya ingin mengekspor produk kerajinan asal Purbalingga. Bulu mata, sapu bambu, dan tikar kayu pun menjadi pilihan mereka. Karena respons pertama datang dari pemesanan bulu mata palsu, mereka kemudian memutuskan untuk menjadi eksportir produk tata rias itu.
“Pasar ekspor bulu mata memang cukup besar dan pengiriman murah karena bisa dikemas dalam paket kecil,” kata Ferry seperti dikutip dari kontan.co.id.
Awalnya, Ferry tak membuat sendiri bulu mata palsu. Ia meneruskan pesanan ke perajin bulu mata yang banyak terdapat di Purbalingga. Sayang, saat sedang merintis usahanya, justru banyak perajin gulung tikar. Tak mau bisnis yang baru saja lahir ikut mati, Ferry dan Audrei lantas mendirikan pabrik sendiri karena pesanan bulu mata mulai banyak.
Bermodal tabungan Rp 50 juta, pabrik bulu mata palsu milik kedua sahabat itu berdiri pada Oktober 2008. Awalnya, mereka menyewa sebuah rumah di Cirongge dan mempekerjakan 30 perajin di pabrik barunya. Tak lupa, Ferry membuat badan hukum untuk usahanya, yakni PT Bintang Mas Triyasa (BMT).
Pada tahap awal, pemesanan bulu mata masih terbilang kecil. Pembeli dari Malaysia, Singapura, dan Australia memesan rata-rata 10.000 hingga 20.000 pasang bulu mata. Tidak semua konsumen BMT puas. Banyak produk mereka yang ditolak. Namun, konsumen yang mengembalikan bulu mata justru memberi pelajaran bagi BMT. Untungnya, mesti konsumennya kecewa, tetapi tidak memutuskan hubungan bisnis mereka.
“Mereka mengarahkan produk kami sesuai dengan standar pasar ekspor, sekaligus memberitahu model bulu mata yang sedang tren,” ujar Ferry.
Bulu mata palsu produk BMT terdiri atas bulu mata berbahan dasar rambut asli dan rambut sintesis. Rambut asli diperoleh dari pengepul di Indonesia dan India yang kualitasnya sangat baik. Rambut dari India lebih tebal dibandingkan rambut dari Indonesia. Sedang bahan baku untuk rambut sintesis dipasok oleh produsen dari Jepang dan Korea.
BMT akhirnya memiliki perwakilan di Amerika Serikat tahun 2009. Produk mereka pun semakin dikenal. Setelah itu produk BMT masuk ke pasar Eropa setelah kedua pengusaha ini rajin mengikuti pameran tata rias.
Pengiriman bulu mata pun terus meningkat. Pesanan bahkan datang dari produsen alat kecantikan kelas dunia. Untuk memenuhi pesanan yang melonjak, BMT membangun pabrik baru. Pabrik yang menempati lahan seluas 3.000 m² di Karang Sentul, Purbalingga, itu dibangun dengan pinjaman bank. Dengan mempekerjakan 300 orang karyawan, produksi BMT meningkat hingga 2,9 pasang bulu mata per tahun.
Tahun 2011, BMT membuka pabrik baru lagi di daerah Mewek, Purbalingga. Ferry mempekerjakan 2.000 karyawan untuk memproduksi 14 juta pasang bulu mata sepanjang tahun lalu. Kini, kedua pengusaha mendiversifikasi usahanya dengan merambah bidang plastik vacuum foaming, sektor finansial, serta jasa distribusi berbagai produk kosmetik dan tata rias. (wik)