Minggu, 19 April 2026

Berita Jakarta

Merasa Salatnya Tak Sah, Bida Ikut Program Hapus Tato Baznas Bazis Jaktim

Bida menceritakan masa kelam ketika ia pertama kali membuat tato karena diajak oleh temannya

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
HAPUS TATO - Wali Kota Jaktim, Munjirin sedang tinjau peserta yang hapus tato melalui program Baznas Bazis di kantornya, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini diakui Munjirin rutin digelar setahun dua kali yakni puasa ramadan dan 17 Agustus. (WARTA KOTA/MIFTAHUL MUNIR) 

Ringkasan Berita:
  • Program hapus tato gratis digelar Baznas Bazis Jakarta Timur di Kantor Wali Kota Jaktim.
  • Bida (61) sudah empat kali ikut, menyesali tato masa lalu dan ingin ibadahnya lebih tenang.Ia berhijrah, meninggalkan pergaulan kelam, dan merasa terbantu karena biaya mandiri mahal.
  • Peserta lain berharap memulai hidup baru, apalagi di bulan Ramadan

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Miftahul Munir


WARTAKOTALIVE.COM, CAKUNG -Bida merasa senang bisa mengikuti program hapus tato di tubuhnya yang digelar oleh Baznas Bazis di Kantor Wali Kota Jakarta Timur Blok C, Selasa (3/3/2026).

Wanita 61 tahun itu mengaku sudah empat kali ikut dalam kegiatan hapus tato dari Baznas Bazis Jakarta Timur.

Bida menceritakan masa kelam ketika ia pertama kali membuat tato karena diajak oleh temannya.

Tato pertama di tangan kanan yang ia buat yaitu daun ganja dan saat ini ia merasa menyesal karena takut salatnya tidak diterima.

Sedangkan di tangan kirinya ia tidak tahu gambar yang dibuat pada saat itu oleh temannya.

"Saya penyesalan banget itu sampai saya salat itu nangis, sujud berkali-kali. Saya minta diampuni dosa-dosa saya," ucapnya, Selasa.

Bida mengakui, 25 tahun lalu atau saat usianya masih 30 tahunan, ia sangat liar dan salah pergaulan karena ingin dipandang oleh teman-temannya.

Memasuki usia senja, wanita warga Bekasi, Jawa Barat ini memutuskan untuk hijarah dan bertaubat. 

Secara perlahan, Bida meninggalkan dunia kelamnya yaitu sering mabuk-mabukan dan keluyuran tak jelas dengan teman-temannya.

"Niat hati saya, karena salat katanya itu enggak masuk air wudhunya. Enggak sah (salatnya) karena ada (tato) itu. Di situ saya makanya suka menangis," tutur Bida.

Ilmu agama itu ia dapat saat mengaji ke ustazah, ceramah kegiatan Maulid Nabi maupun Isra Miraj.

Bida sendiri hijarah karena sering melihat tontonan siksa kubur, apalagi bagi orang-orang yang jauh dari tuhannya.

"Kalau saya tinggalkan semuanya (dunia kelam). Kalau teman-teman saya masih banyak yang enggak ninggalin. Kalau saya sudah mantep saya tinggalin," ucapnya sambil memegang dada mantapkan hati hijrah.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved