Minggu, 3 Mei 2026

BMKG: Awan Berwarna-warni di Bogor Bukan Pertanda Bencana

BMKG Memberikan Penjelasan Bahwa Awan Berwarna-warni di Bogor Bukan Pertanda Akan Datangnya Bencana Alam

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Istimewa
AWAN PELANGI -- Fenomena langit berwarna-warni yang menghiasi kawasan Sentul City, Bogor, pada Jumat (1/5/2026) lalu sempat menyita perhatian warga. Gradasi warna merah muda, hijau, biru, hingga ungu yang tampak di tepi gumpalan awan menciptakan pemandangan tak biasa, membuat banyak orang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen tersebut. Peristiwa ini terpantau sekitar pukul 14.00 WIB, saat kondisi langit awalnya cerah sebelum kemudian muncul lapisan awan tipis dengan spektrum warna lembut. Fenomena tersebut terlihat di sejumlah wilayah, mulai dari Jonggol, Sentul, hingga Cileungsi, dan berlangsung sekitar 30 menit sebelum hujan turun di beberapa titik. 

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Fenomena langit berwarna-warni yang menghiasi kawasan Sentul City, Bogor, pada Jumat (1/5/2026) lalu sempat menyita perhatian warga.

Gradasi warna merah muda, hijau, biru, hingga ungu yang tampak di tepi gumpalan awan menciptakan pemandangan tak biasa, membuat banyak orang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen tersebut.

Peristiwa ini terpantau sekitar pukul 14.00 WIB, saat kondisi langit awalnya cerah sebelum kemudian muncul lapisan awan tipis dengan spektrum warna lembut.

Fenomena tersebut terlihat di sejumlah wilayah, mulai dari Jonggol, Sentul, hingga Cileungsi, dan berlangsung sekitar 30 menit sebelum hujan turun di beberapa titik.

Salah seorang pengunjung, Ryan Herlambang (21), mengaku terkejut saat melihat pelangi samar muncul di balik awan tebal. Ia menyebut banyak orang spontan menengadah ke langit setelah menyadari keindahan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa fenomena itu bukan pertanda bencana.

Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa awan berwarna-warni tersebut merupakan fenomena optik atmosfer yang umum terjadi.

“Ini bukan tanda badai atau kejadian berbahaya. Fenomena tersebut berkaitan dengan proses pembiasan cahaya Matahari oleh butiran air di atmosfer,” ujar Ida.

Menurut BMKG, warna-warna tersebut terbentuk ketika cahaya Matahari dibiaskan dan dipantulkan oleh partikel air atau kristal es di dalam awan.

Kondisi ini umumnya terjadi pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang memiliki ukuran partikel relatif seragam.

Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence).

Berbeda dengan pelangi biasa yang membentuk busur sempurna, warna pada iridesensi cenderung menyebar mengikuti bentuk awan dan tampak lebih lembut.

Proses ini terjadi akibat difraksi cahaya, yakni pembelokan sinar Matahari saat melewati partikel kecil berukuran sekitar 1–10 mikron di dalam awan.

BMKG juga menjelaskan bahwa kemunculan awan iridesensi justru sering berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal.

Hal ini sejalan dengan kondisi di lapangan, di mana sebagian wilayah Sentul masih cerah sementara daerah sekitarnya telah mengalami peningkatan kelembapan atau hujan ringan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved