Minggu, 31 Mei 2026

Berita Nasional

Pakar ITB Soroti Cuaca Ekstrem dan Risiko Blackout pada Sistem Listrik Sumatra

Kevin mengatakan, perubahan pola iklim membuat variabilitas cuaca menjadi semakin dinamis dan sulit diprediksi.

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
TANTANGAN KELISTRIKAN- Dr Ir Kevin Marojahan Banjar Nahor ST MT, menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi sistem kelistrikan modern di tengah perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim.. Foto Ilustrasi blackout Sumatra. Foto dibuat dengan prompt Chat GPT 
Ringkasan Berita:
  • Pengamat ITB Kevin Marojahan menilai blackout di Sumatra menunjukkan tantangan besar sistem kelistrikan modern di tengah perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim.
  • Variabilitas cuaca seperti suhu, angin, hujan, dan kelembapan disebut memengaruhi stabilitas jaringan transmisi listrik berskala besar.
  • Gangguan pada sistem interkoneksi dinilai bisa berkembang menjadi cascading disturbance atau gangguan berantai bila memengaruhi aliran daya listrik.

 

WARTAKOTALIVE.COM- Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ir Kevin Marojahan Banjar Nahor ST MT, menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi sistem kelistrikan modern di tengah perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim.

Menurut Kevin, fenomena blackout yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Sumatra menjadi gambaran bagaimana sistem interkoneksi berskala besar sangat dipengaruhi kondisi lingkungan yang terus berubah.

Ia menjelaskan, sistem transmisi tegangan tinggi memiliki ketergantungan besar terhadap faktor cuaca seperti suhu udara, kelembapan, curah hujan, hingga kecepatan angin.

“Kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting dalam pengoperasian jaringan transmisi modern,” ujar Kevin, Jumat (29/5/2026).

Kevin mengatakan, perubahan pola iklim membuat variabilitas cuaca menjadi semakin dinamis dan sulit diprediksi.

Kondisi tersebut dinilai menambah tantangan bagi operator kelistrikan dalam menjaga stabilitas jaringan interkoneksi besar seperti di Sumatra.

“Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun variabilitas cuaca yang meningkat memang dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” katanya.

Ia menjelaskan, gangguan pada jaringan listrik skala besar umumnya tidak dipicu satu faktor tunggal.

Baca juga: Menkeu Purbaya Beri Alasan Dana Pemulihan Sumatera Rp 60 Triliun Belum Terpakai Maksimal

Menurut Kevin, gangguan biasanya muncul akibat kombinasi sejumlah faktor yang saling memengaruhi dalam waktu bersamaan.

“Gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Dalam kondisi operasi tertentu, gangguan yang awalnya lokal dapat berkembang menjadi gangguan berantai atau cascading disturbance,” ujarnya.

Ia mengatakan, gangguan berantai tersebut dapat memengaruhi aliran daya dan stabilitas sistem tenaga listrik secara keseluruhan.

Kevin menilai sistem proteksi otomatis pada jaringan interkoneksi memang dirancang untuk mencegah kerusakan yang lebih besar saat terjadi gangguan.

“Ketika kestabilan sistem terganggu, sistem proteksi akan bekerja otomatis untuk mengurangi risiko kerusakan pada jaringan maupun pembangkit,” katanya.

Di sisi lain, Kevin menyebut sistem interkoneksi besar memiliki keuntungan dari sisi efisiensi dan fleksibilitas distribusi energi listrik.

Namun semakin besar sistem interkoneksi, maka kompleksitas pengelolaan dan pengawasan jaringan juga menjadi semakin tinggi.

Baca juga: YLKI Tegaskan Konsumen Berhak Dapat Kompensasi usai Blackout Sumatra

Karena itu, menurut dia, penggunaan teknologi monitoring real-time dan analisis data menjadi semakin penting dalam pengoperasian sistem tenaga modern.

Selain itu, inspeksi jaringan menggunakan drone juga mulai banyak diterapkan untuk membantu mendeteksi potensi gangguan lebih dini.

“Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan bisa dilakukan lebih dini,” ujarnya.

Kevin menambahkan, tantangan akibat perubahan pola cuaca tidak hanya dihadapi Indonesia.

Menurut dia, berbagai negara dengan sistem interkoneksi besar juga menghadapi persoalan serupa terkait ketahanan sistem kelistrikan terhadap perubahan iklim.

“Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern,” katanya.

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim Polri, Puslabfor, dan PLN mengungkap dugaan gangguan pada blackout Sumatra berasal dari putusnya kabel transmisi di area sambungan atau mid span jointing.

Gangguan tersebut diduga dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis pada jaringan transmisi.

Dalam konferensi pers investigasi, aparat juga memperlihatkan potongan kabel yang dijadikan sampel barang bukti untuk diuji di laboratorium forensik.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved